- Aku Bersedia (I'm Willing)
- Aku Telah Diprogram Untuk Menang (I am Wired to Win)
- Aku Bisa (I Got This)
- Aku Merangkul Ketidakpastian (I Embrace The Uncertainity)
- Aku Bukanlah Pikiranku, Aku adalah Tidakanku (I am not My Thoughts, I Am What I Do)
- Aku Berteguh (I am Relentless)
- Aku Tidak Mengharapkan Apapun dan Menerima Konsekuensinya (I Expect Nothing and Accept Everything)
Jamais Vu
Aku duduk di sisi paling kanan ruangan. Dari sini, aku bisa
melihat semua orang di ruang makan. Orang-orang duduk berkelompok. Kebanyakan,
duduk berdekatan dengan teman sefrekuensinya.
Suasana ini seperti bertahun-tahun lalu, ketika aku ada di tengah-tengah lingkaran ini sebagai murid. Sekarang, aku kembali lagi, sebagai pegawai.
“Del, kamu lihat ga tadi….” seseorang membuyarkan lamunanku. Aku mengalihkan perhatianku padanya. Tersenyum
dan ikut larut dalam obrolannya.
Sebetulnya aku lebih banyak mendengarkan dan merespons ceritanya,
sih.
Selesai makan dan ngobrol-ngobrol, kami kembali ke kamar
masing-masing, bersiap-siap untuk melanjutkan acara retreat hari itu. Aku merogoh
kantung celanaku ketika teman sekamarku dari kejauhan menghampiri, “ayuk kita
balik ke kamar”, memastikan kalau kunci kamar masih ku simpan dengan baik.
Di jalan menuju kamar, ingatanku kembali pada masa remajaku.
Perasaan asing, berbeda, dan tidak percaya diri itu masih
ada.
Tapi, sekarang berbeda.
Sudah tidak ada rasa benci pada situasi seperti ini.
Sudah tidak sebaper dulu.
Sudah bisa berbaur dan biasa-biasa saja kalau sendirian.
Sudah tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil yang mungkin
akan membuatku tersinggung.
Hal-hal buruk itu masih ada.
Tapi, setelah 10 tahun berlalu, sudah tidak sekelam dulu,
ya? Rasanya jauh lebih baik.
Healing : Pengalaman Baru
“Ma, della kemarin jadi WL.”
“Apa, tuh?”
“Worship leader, pemimpin pujian.
Tapi jadi pemimpin pujian untuk anak-anak.”
“Wahh, baguslaah. Tercapai, ya, keinginan
Della. Kan, Della pernah nanya-nanya Yabes (nama panggilan temenku) tentang guru sekolah minggu di gereja situ.”
Seketika kilas balik ke sembilan tahun yang lalu, saat aku menghubungi temanku (mamanya seorang guru sekolah minggu), menanyakan soal pelayanan mengajar anak-anak di gereja itu.
"Langsung tanya mamaku, lah."
Jawabannya bukan penolakan, memang. Hanya saja membuatku agak tersinggung. Lalu, ketidak-pede-an membuatku dengan mudah mengurungkan niat. ‘Yah, mungkin saat itu bukan waktunya Tuhan’, pikirku sekarang
ini.
Sembilan tahun kemudian, aku ada dalam sebuah pelayanan gereja. Mengajari anak-anak pelajaran umum di Rumah
Belajar ke desa-desa. Tanggal 23 Mei kemarin adalah kali kedua aku ikut pelayanan
ke Rumah Belajar.
Bukan kesengajaan. Tapi pelan-pelan
Tuhan antarkan aku ke situasi yang pernah kuinginkan dulu. Di mulai saat aku 'dijaring' salah satu hamba Tuhan untuk ikut kelompok rayon (aku sendiri pernah ngomong dalam hati, 'pengen punya kelompok kecil gereja, deh'), lalu ditawarkan untuk ikut pelayanan ke Rumah Belajar.
“Bersenang-senang, lah, ya kamu di
rumah belajar nanti.” Kata konselor gereja yang baru-baru ini ku temui beberapa
kali.
Tapi, benar katanya; aku bersenang-senang.
Walaupun sempat mabuk darat sampai muntah, kehilangan mood untuk makan
siang karena perut yang rasanya tak nyaman, pelayanan kemarin terasa seperti ‘healing’
di tengah pekerjaan yang membuat mumet kepala.
Setelah pengalaman ini, rasanya,
aku harus membiarkan kegiatan ini menjadi ‘healing’, kan, ya?
Cuma Kegeeran
Ku kira malam itu, malam yang membahagiakan buat kita
Duduk berdampingan di lantai dua,
Di sebuah cafe yang sedang hits katanya,
Menghadap jalan raya
Kamu dengan segelas con hielo favoritmu,
Dan aku dengan segelas red velvet yang ku pesan karna penasaran
Malam itu, kita saling bertukar cerita
Aku senang bisa mendengar ceritamu
Menatap wajahmu yang antusias ketika bercerita
Walaupun aku malu, karena aku tak cukup pandai menanggapi obrolanmu
Sedangkan ceritaku, selalu ditanggapi dengan baik sama kamu
Kita beda ya,
Aku gak sebagus itu ngobrolnya,
Sedangkan kamu bagus banget ngobrolnya
Seminggu setelah itu,
Ku kira kamu akan mengajakku ngobrol lagi seperti malam itu
Tapi mungkin aku kegeeran ya?
Mungkin cuma aku yang bahagia bisa menghabiskan waktu berdua sama kamu
Mungkin cuma aku yang menunggu-nunggu kapan hari itu ada lagi
Atau mungkin.. cuma aku ya.. yang paling sayang sama kamu?
Kelabu pertama
Ben memakai kaosnya sendiri kali ini. Semalam, Ben sudah berjanji pada mamak, di umurnya yang ke lima sejak hari itu, Ben akan belajar memakai bajunya sendiri.
"Wah, Ben pintar sekali." kepala Ben menoleh ke sumber suara. Mamak masuk dari balik pintu kamar Ben, memeluknya seraya mengucap, "trimakasih, sayang", lalu mencium pipi Ben, yang dibalas cium oleh Ben.
"Sekarang, Ben cium bapak ya?" masih dengan senyuman yang mengembang, Ben mengangguk, mengikuti mamak yang menggandeng tangannya menuju tempat bapak berbaring.
Biasanya, Ben selalu mencium pipi bapak sebelum tidur. Namun yang Ben lihat kala itu, bapak sudah tertidur duluan. 'mungkin bapak sudah sangat ngantuk', pikir Ben.
Ben mengecup pipi bapak seperti biasa. Tapi kali itu, tidak seperti biasanya, pipi hangat bapak rasanya dingin. Ben bermaksud bertanya, tapi mamak sudah menarik tangannya duluan.
"Ben, tolong ambil dan pakai sepatu sendiri, ya? Sekalian ambilkan jaket punya Ben dan punya mamak, bisa kan?"
---
Ben berjalan dengan hati-hati menghindari genangan air. Sambil digandeng mamak, Ben berjalan menuju orang-orang yang mengerumuni tempat bapak berbaring.
Tempat bapak berbaring yang sudah tertutup, perlahan dimasukan kedalam lubang besar ke dalam tanah. Beberapa orang mulai mengais tanah dan menumpukkannya keatas tempat bapak berbaring. Melihat itu, Ben panik, "Mak, kenapa bapak dilempar tanah?"
Ben menoleh, dilihatnya mamak yg sudah menangis begitu deras. Mamak tidak menjawab apa-apa selain memeluk Ben. Ben bingung, panik, orang-orang disekelilingnya juga menangis.
"Mamak kenapa nangis? Bapak kenapa, mak? Kenapa mereka ndak berhenti ngelempar tanah?" Mamak semakin terisak sembari memeluk Ben lebih erat. Ben belum mengerti, tapi rasanya, hatinya kelabu.
Langit menurunkan hujan sedikit demi sedikit, bersamaan dengan Ben yang berteriak kencang sambil menangis di pelukan ibunya. Ia tidak begitu paham, mengapa sehari setelah ulang tahunnya, ia merasakan patah hati terhebat, ketika melihat ibunya sedih dengan teramat, dan bapak yg dilempar-lempar dengan tanah tanpa ada seorangpun yang menghentikannya.
If
“Enak
ya, jadi kamu.” katamu sambil memakan pizza yang baru saja di pesan Pak Mulyo,
setelah kita menghabiskan bekal makan siang ku.
Kamu
membersihkan mulutmu dengan baju doraemon kebesaranmu, setelah aku membersihkan
mulut dan tanganku dengan tisu yang Pak Mulyo sodorkan padaku. Bibirmu
menyunggingkan senyum, ketika aku menyodorkan tisu padamu. Lalu kamu dengan
cepat membersihkan mulut dan tanganmu dari sisa-sisa saus pizza.
Tak
lama setelah itu, mamaku datang dengan mobil putihnya. Mama tidak turun dari
kursi penumpang, hanya menurunkan kaca mobil, kemudian membalas sapaan sopan
darimu dengan senyuman. Pak Mulyo segera membukakanku pintu agar aku dapat
duduk di sebelah mama, lalu menutup pintu dan segera duduk disamping supir.
Kamu berdiri sambil merapikan rambutmu yang selalu di ikat satu, beralih ke rok
biru tua mu yang warnanya sudah pudar. Segera melontarkan kalimat, “hati-hati
dijalan” sambil melambaikan tangan ketika mobil melaju pelan.
Dari
balik kaca mobil, aku masih terus memandang kearahmu. Melihat senyummu yang
lebar ketika ayahmu datang untuk mengajakmu bermain sambil membawa bola plastik
yang kita gunakan untuk bermain kejar-kejaran kemarin. Kamu menyambut bola itu,
lalu berusaha mengejar ayahmu yang berlari sambil tertawa menjauhimu.
“Jangan
lupa ya, Aldo” sesaat setelah kamu hilang dari pandangan, mama mengatakan ini.
“Kamu
ada les matematika dan sains sebentar lagi. Trus malamnya, les bahasa inggris.
Jadwal kamu udah mama atur. Les bahasa nya malam supaya kamu gak terlalu
stres". Kalimat berulang itu sudah sering kudengar setiap mama menemukanku
bertemu denganmu. Lebih tepatnya setelah dia tau kalau aku pernah bolos les hanya
demi bermain denganmu.
"Trus
rencananya mama juga mau tambahin les musik di celah waktu olahraga mu setiap
Sabtu dan Minggu. Mama rasa kamu juga harus mulai sering-sering ikut papa dan
mama ke rumah sakit. Yang itu juga udah mama masukan ke jadwal mu. Kamu tau
kan, menjadi kepala dokter itu ga mudah. Apalagi kamu udah kelas 7. Jadi...”
Omongan
mama sudah tak terdengar lagi ketika tiba-tiba sebuah kalimatmu tadi melintas
dalam pikiranku, yang perlahan mulai terngiang-ngiang dan membuatku larut.
“Enak
ya, jadi kamu.”
26 Maret 2020
00:00 (Zero O'clock) - BTS (English)
Matthew 6 : 34 (NLT)
So don't worry about tomorrow, for tomorrow will bring its own worries. Today's trouble is enough for today.
You know those days
Those days where you're sad for no reason
Those days where your body is heavy
And it looks like everyone else except you is busy and fierce
My feet won't set off, though it seems like I'm already too late
I'm hateful of the world
Here and there are click-clacking speed bumps
My heart grows crumpled and my words lessen
Why the hell? I ran so hard
Oh, why to me
Come home and lie in bed
Thinking if it was my fault?
Dizzy night, looking at the clock
Soon it will be midnight
Will something be different?
It won't be something like that
But this day will be over
When the minute and second hands overlap
The world holds its breath for a little while
Zero o'clock
And you gonna be happy
Like that snow that just settle down
Let's breathe, like the first time
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock
The beat slips away little by little
I can't put on the easy face
I keep forgetting familiar lyrics
There's nothing going my way
Yes, it's all in the past
Even talking to myself, it's not easy
Is it my fault? Is it my wrong?
Only my echo comes back with no answer
Put my hands together to pray
Hoping that tomorrow I'll laugh more, for me
It'll be better, for me
When this song ends
My new song begins
Hoping that I'll be a little happier
And you gonna be happy
I hold my breath for a very brief moment
And give myself a pat today, as well
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock
Produce by Pdogg
Written by Pdogg, RM, Jessie Lauryn Foutz, Antonina Armato
Jatuh.
Aku sudah pernah jatuh beberapa kali
Egois.
Didepan orang lain, saya selalu menjadi orang yang paling banyak cerita.
Dihadapan orang lain, saya selalu ingin didengar.
Konyolnya, saya pernah mengatakan kalau saya ini pendengar yang baik.
Nyatanya, itu hanya pengakuan dari pemikiran saya yang menggelikan.
Nyatanya, saya tidak mampu membuat orang lain betah menjadikan saya tempat bercerita.
Nyatanya, saya masih sering datang pada orang lain hanya untuk didengarkan.
Miris.
Saya begitu miris, karena pernah percaya diri tentang hal ini.
Bukankah itu egois?
Pelabelan
Kejadian tak menyenangkan semacam itu sering saya lihat dialami oleh C, karena saya selalu 1 kelas dengannya. Saya juga ingat waktu kelas 3, C pernah dihukum, disuruh buka baju, dan dadanya di gambar-gambar oleh bu guru. Melihatnya menangis, membuat saya jadi tak tega. Terakhir kali melihat C adalah waktu kami kelas 5. Ketika ia disuruh kedepan kelas untuk menyampaikan kata-kata terakhir kepada teman-teman dan bu guru, karena saat itu ia dinyatakan tidak naik kelas.
Senin, 30 Desember 2019
Awal tahun 2019, mereka kembali. Menyerangku seperti dulu. Bahkan ketika aku sudah banyak mengetahui alasan dan solusinya, mereka tetap tak bisa dicegah. Walaupun masih bisa kuatasi di beberapa situasi, mereka tetap berhasil membuatku merasakan hal yang sebelumnya tak pernah kurasakan, melakukan hal buruk yang sebelumnya tak pernah kulakukan.
Tahun 2020, aku hanya ingin mereka tak membuatku semakin buruk. Kalau memang mereka tak mau melepaskanku, setidaknya, jangan persulit aku. “Hei, aku membenci kalian, distorsi kognitif. Umurku sudah 22. Kau tak berhak mengganggu kehidupanku yang sudah seharusnya melangkah lebih maju ini. Jadi, biarkan aku mengendalikanmu”.
BTS' Poems (English)
Aired on V LIVE, July 24th 2018
Wherever the rain goes, things turn into gold
I could not do anything
I met you in the golden time
I find myself starting to shine
At first I was gold
I looked around after a while
Everything around me turned into gold
I don't want to lose this priceless light
Don't be sad when you make a mistake while dancing
It's no big deal
You just don't have to make the same mistake
Cheer up, cheer up
Namjoon, don't panic after blowing a kiss
It's no big deal
Your blowing kiss makes a lot of army's hearts flutter
Pound, pound
Yoongi, you want to be a stone in your next life
Don't worry
It's not a big deal
I'll bring you to a lot of beautiful places
Stone, stone
Hoseok, you give us a scary look when we make a mistake on stage
Don't do that
It's no big deal
A slip of a wise man, everybody makes mistakes
Understand it with a warm smile
Bboing, bboing
Jimin, because of a diet and singing out of tune, or making a mistake on stage, don't be stressed out
It's no big deal
No matter you do on stage, it won't change the fact that you're the coolest performer I've ever seen
Gasp, gasp
Jungkook, stop exercising to tease us more
Iy's no big deal
The more you act cute, the cuter you look. You're not cute anymore
Coachie, coachie
To meet a stranger, to meet different people
I come to think if I make a mistake or what is wrong with that person
To be together is hard
But without them, I feel empty
When I'm happy, sad, or want to be comforted, they come to my mind to my surprise
Those who were with me are with me know as 'us' which I feel so grateful for
We became to share small things
I hope they stay healthy
Again today, we are together as night sets in
I think that is what being together is like
Taehyung's half buzz cut
Jungkook's Bambi eyes and stonewash skinny jeans
Hoseok's gray padded jacket
Yoongi's blue sweatpants
When Seokjin wasn't into dad jokes
Jimin's chubby body
I remember
Our Han River, our bikes, our Gxxx v necks, our Gxxx chino shorts, our showcase, our bulgogi, our chairs in the waiting room, and our blood sweat and tears
All those memories are in the corner of the drawer in my head
All those memories are like 'giyeok', the first Korean alphabet consonant
My precious first
So again today, 'I giyeok' memories
Mr. Namjoon, Mr. Seokjin, Mr. Yoongi, Mr. Jimin, Mr. Taehyung, Mr. Jungkook, and Mr. Hoseok
These seeds became beautiful flowers
They bring beauty to someone
They bring joy to someone
They bring the scent of memories to someone
Mr. Namjoon, Mr. Seokjin, Mr. Yoongi, Mr. Jimin, Mr. Taehyung, Mr. Jungkook, and Mr. Hoseok
Bloom like a rose, flutter like a cherry blossom
Fall-like morning glory, like a morning glory
Just like a beautiful moment
Let's stick together
I love you
Saranghae
Just the boys with many dreams
We had nothing, but we have many things now
We were only dreaming, but we became a dream of someone
Life is full of choices and regrets
I'm scared, and so we are
We dreamed about flying high up in the sky
But it's too high and cold
It's hard to catch our breath
The Brighter the light on us, the darker the shadow
What a relief that we have 7 members
What a relief that we have each other
Run BTS! and BTS alike
Everything in the world gets tired
I want to hope that this is not the moment
I wanted to go with the flow
But I realize I'm a man who lives fiercely
We were always happy and achieved anything we want together
But we can't go against nature
Looking at myself growing older, I look back on out dance
I'm so tired
Mr. Seongduk, so many dance moves are too difficult, I trust you
Namjoon, let's go for it
Note:
'Seed' is the pronounciation of 'Mr' in Korean Language.
Senin, 9 Desember 2019
Pura-pura Bahagia
Terdiagnosa
Hujan
Tentang Blog Ini
Dari awal, aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat malu jika ada orang yang kukenal membaca tulisan-tulisanku. Tapi aku tak menampik kalau aku ingin, setidaknya, ada beberapa orang yang tahu mengenai blog ini.
Awalnya, blog ini ingin kujadikan penyalur hobiku dalam menulis. Walaupun sepertinya tulisanku tak menarik, setidaknya impianku tersalurkan : punya blog dan menulis. Tapi sebenarnya, yang kuharapkan bukan tulisan-tulisan seperti ini. Aku mengharapkan tulisan-tulisan menarik dan bermakna.
Kenyataannya? Kurasa tulisanku hanya penuh dengan curhatan-curhatan. Contohnya postingan yang judulnya "gumul". Di beranda memang kelihatannya tulisan rohani, tapi isinya sebenarnya curhatan.
Sejauh ini, tulisan tentang 'menikah' adalah yang terpanjang. Padahal, aku tak pernah pacaran. Lucu sekali. Membahas tentang pasangan, tapi tak pernah merasakan punya pasangan. Hanya sebatas berandai-andai tentang masa depan.
Aku pernah menemukan blog (atau wordpress, aku lupa) berisi kisah si penulis, seperti kumpulan diary yang dia posting kedalam blognya. Tapi tulisannya bagus, bukan yang seperti ini. Aku tidak tahu apakah ada juga blog yang isinya melulu curhatan picisan seperti ini. Entahlah, sepertinya blog ini memang sangat tidak menarik.
Oh, ada tambahan. Mengenai kegelisahanku. Ini tentang Tugas Akhir (skripsi). Sebenarnya masih proposal, tapi ini benar-benar membingungkan. Seminggu terakhir aku terkena asam lambung yang membuat moodku semakin memburuk dalam mengerjakan proposal. Ini menyebalkan. Aku mahasiswa akhir yang ingin cepat-cepat lulus, tapi sesulit ini rupanya.
Ada yang sama sepertiku? Kalau ada, ayo kita berjuang mengakhiri status mahasiswa ini sebagai penerima nilai sidang yang baik dengan pakaian toga yang membanggakan orang tua. Ayo berjuang! :)
Novel
Aku pernah.
Dulu, jaman putih biru dan putih abu-abu, aku suka membaca novel. Setiap kali pergi ke mall, gramedia selalu menjadi tempat yang tak pernah tak ku kunjungi. Keluar dari gramedia, tanganku memang tak pernah kosong. Setidaknya, ada satu buku yang kubawa pulang.
Novel-novelku tersusun rapi diatas meja. Walau pada kenyataannya, ada cukup banyak yang hilang entah kemana.
Soal genre? Aku tak pernah punya genre favorit. Dari cerita romansa, humor garing, cerita dari blog, sampai kisah konyol nan dodol pun pernah ku beli.
Aku tak pernah tau novel yang sedang laris, atau yang terbaru. Aku tak pernah mengikuti perkembangan terbaru soal novel-novel yang ada di toko buku itu, atau buku yang sedang digemari anak-anak muda pada jamannya. Yang ku tahu hanya datang kesana, baca sinopsis, membayangkan kisahnya, lalu membeli. Alasan lain juga karena rekomendasi dari orang yang menemaniku berburu novel saat itu.
Menyenangkan? Tentu saja. Aku suka sekali membaca (cerita fiksi seringnya). Novel itu temanku kala libur dan bosan.
Tapi itu dulu.
Semenjak kuliah, novel sudah menjadi masa lalu. Kalau ditanya, "Kapan terakhir kali baca novel?", jawabannya, mungkin tahun lalu. Tapi novel yang kubaca itu tidak membekas. Hanya seperti angin lalu. Novel yang ku ingat hanya Dilan, yang kubaca beberapa tahun yang lalu.
Setelah sekian lama, novel sudah bukan bagian dari kesenanganku lagi.
Kemudian, banyak pertanyaan muncul dikepalaku.
"Mengapa?"
"Bagaimana bisa?"
Berbagai spekulasi dalam kepalaku muncul, seperti,
"Apa kemalasanku sudah akut sampai-sampai menyerang hobi?"
Lalu, nanti, apa membaca novel bisa menjadi hobiku lagi?
Confusion on May 21, 2019
When i said that i am sick, my mom said "no! You are not sick."
When i said that i need to go to the psychologist, my mom said, "why? You don't need it. You're healthy."
When i told to my mom about my friend who got mental illness and she got depressed just like me, she said, "why are you hurting me? You're not sick! Stop talking about that. You make me really sad, i feel that i failed to be a good parent for you."
And suddenly i stopped.
But, somehow, my mom said, "if you want to go to the psychologist, i allowing you. Maybe you need it. Just in case you can be more confident and be thankful for your life."
It was surprising to me. But, somehow, i was thinking that i'm too much. So, i said to her, "i don't need it. I can fix myself alone."
My mom was confused, but she never force me.
But, a few days ago, i said to my mom, "i can't stand it anymore. I really can't fix it. This is so hard. I really need a psychologist."
But, unexpectedly, my mom answered, "please be mature, my daughter. Don't hurt yourself. Just try to think about your future and your family. We need you to be healthy. Don't think too much, it will hurt you. Stop thinking about going to a psychologist or whatever. You're strong. You don't need to go there yet. You can fix it by yourself."
After that, i was thinking like what my mom said.
But suddenly, i just watched a video about so many people have problems, many people can have mental illness. It said, "if you have mental illness, and you can't stand it, and make you hurt yourself even other people, please go to a psychologist. It's important for you and people around you."
Now i'm thinking.
I have ever hurted and thought to hurt myself because of (i think) my depression. But now, for these days, i never do that again. At least, rarely. So, should i go to the psychologist when i feel that i don't need it?

.jpeg)

