Beresin Dulu Hidupmu (Unfu*k Yourself)


Sejujurnya, buku self-development adalah buku yang tidak menarik buatku. Tidak seperti buku novel fiksi yang senang kubaca semasa sekolah, beberapa buku self-development yang kubaca bahkan tak sampai di halaman sepuluh. Terlebih lagi, aku sudah sangat lama tidak membaca buku, sehingga memerlukan niat yang besar untuk menyelesaikan buku ini. Sampai akhirnya, buku ini adalah buku self-development pertama yang kubaca hingga habis. 

Buku Beresin Dulu Hidupmu ku dapat bulan Desember 2024, saat acara tukar kado di kantor. Dari halaman awal, buku ini memang diperuntukkan untuk orang-orang yang penuh pikiran negatif dan keragu-raguan sepertiku. Cukup buatku penasaran, "memangnya diriku terlihat seperlu itu untuk dibereskan?"

Penulis sendiri memberikan 7 kalimat asertif pada setiap babnya:
  • Aku Bersedia (I'm Willing)
  • Aku Telah Diprogram Untuk Menang (I am Wired to Win)
  • Aku Bisa (I Got This)
  • Aku Merangkul Ketidakpastian (I Embrace The Uncertainity)
  • Aku Bukanlah Pikiranku, Aku adalah Tidakanku (I am not My Thoughts, I Am What I Do)
  • Aku Berteguh (I am Relentless)
  • Aku Tidak Mengharapkan Apapun dan Menerima Konsekuensinya (I Expect Nothing and Accept Everything)
Pada hampir seluruh bab, penulis acap kali menyatakan bahwa pikiran adalah pengaruh paling besar dalam hidup. Meskipun faktanya, perubahan tidak berhenti hanya di kalimat positif saja. Tentu perlu ada dorongan yang kuat dari dalam diri masing-masing untuk mulai bergerak dan melakukan sesuatu.

Penulis selalu menyertakan cerita yang membawa pembacanya masuk ke dalam tiap kalimat asertif yang ia buat. Sehingga rasanya, tulisannya berhasil mempengaruhi pikiran. Seketika perasaan takut dan ragu itu tertutup sama kalimat-kalimat asertif positif yang ku baca, karena terasa nyata. 

Setelah memberikan banyak pengaruh untuk mengubah pola pikir dan cara pandang, penulis tak lupa mengingatkan bahwa realitas tak selalu sesuai ekspektasi. Karena harapan yang tak tercapai tidak akan merubah apapun pada realitas. Rencanakan untuk keberhasilan, belajar dari kegagalan. 

Bab 9 (paling akhir), awalnya ku pikir hanya berisi rangkuman semata. Ternyata, isinya juga perintah!

"AYO BANGUN!"
"TIDAK ADA ALASAN!!"
"LAKUKAN SEKARANG JUGA!!!"

Iya..iya.. Sebentar lagi.. Hadehh
Continue reading Beresin Dulu Hidupmu (Unfu*k Yourself)

Jamais Vu

Aku duduk di sisi paling kanan ruangan. Dari sini, aku bisa melihat semua orang di ruang makan. Orang-orang duduk berkelompok. Kebanyakan, duduk berdekatan dengan teman sefrekuensinya.

Suasana ini seperti bertahun-tahun lalu, ketika aku ada di tengah-tengah lingkaran ini sebagai murid. Sekarang, aku kembali lagi, sebagai pegawai.

Aku merasa asing, berbeda, dan tidak percaya diri. 

“Del, kamu lihat ga tadi….” seseorang membuyarkan lamunanku. Aku mengalihkan perhatianku padanya. Tersenyum dan ikut larut dalam obrolannya.

Sebetulnya aku lebih banyak mendengarkan dan merespons ceritanya, sih.

Selesai makan dan ngobrol-ngobrol, kami kembali ke kamar masing-masing, bersiap-siap untuk melanjutkan acara retreat hari itu. Aku merogoh kantung celanaku ketika teman sekamarku dari kejauhan menghampiri, “ayuk kita balik ke kamar”, memastikan kalau kunci kamar masih ku simpan dengan baik.

Di jalan menuju kamar, ingatanku kembali pada masa remajaku.

Perasaan asing, berbeda, dan tidak percaya diri itu masih ada.

Tapi, sekarang berbeda.

Sudah tidak ada rasa benci pada situasi seperti ini.

Sudah tidak sebaper dulu.

Sudah bisa berbaur dan biasa-biasa saja kalau sendirian.

Sudah tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil yang mungkin akan membuatku tersinggung.

Hal-hal buruk itu masih ada.

Tapi, setelah 10 tahun berlalu, sudah tidak sekelam dulu, ya? Rasanya jauh lebih baik.

Continue reading Jamais Vu

Healing : Pengalaman Baru


“Ma, della kemarin jadi WL.”

“Apa, tuh?”

“Worship leader, pemimpin pujian. Tapi jadi pemimpin pujian untuk anak-anak.”

“Wahh, baguslaah. Tercapai, ya, keinginan Della. Kan, Della pernah nanya-nanya Yabes (nama panggilan temenku) tentang guru sekolah minggu di gereja situ.”

 

Seketika kilas balik ke sembilan tahun yang lalu, saat aku menghubungi temanku (mamanya seorang guru sekolah minggu), menanyakan soal pelayanan mengajar anak-anak di gereja itu. 

"Langsung tanya mamaku, lah."

Jawabannya bukan penolakan, memang. Hanya saja membuatku agak tersinggung. Lalu, ketidak-pede-an membuatku dengan mudah mengurungkan niat. ‘Yah, mungkin saat itu bukan waktunya Tuhan’, pikirku sekarang ini.

Sembilan tahun kemudian, aku ada dalam sebuah pelayanan gereja. Mengajari anak-anak pelajaran umum di Rumah Belajar ke desa-desa. Tanggal 23 Mei kemarin adalah kali kedua aku ikut pelayanan ke Rumah Belajar.

Bukan kesengajaan. Tapi pelan-pelan Tuhan antarkan aku ke situasi yang pernah kuinginkan dulu. Di mulai saat aku 'dijaring' salah satu hamba Tuhan untuk ikut kelompok rayon (aku sendiri pernah ngomong dalam hati, 'pengen punya kelompok kecil gereja, deh'), lalu ditawarkan untuk ikut pelayanan ke Rumah Belajar. 

“Bersenang-senang, lah, ya kamu di rumah belajar nanti.” Kata konselor gereja yang baru-baru ini ku temui beberapa kali.

Tapi, benar katanya; aku bersenang-senang. Walaupun sempat mabuk darat sampai muntah, kehilangan mood untuk makan siang karena perut yang rasanya tak nyaman, pelayanan kemarin terasa seperti ‘healing’ di tengah pekerjaan yang membuat mumet kepala.

Setelah pengalaman ini, rasanya, aku harus membiarkan kegiatan ini menjadi ‘healing’, kan, ya?








 

Continue reading Healing : Pengalaman Baru

Cuma Kegeeran

Ku kira malam itu, malam yang membahagiakan buat kita
Duduk berdampingan di lantai dua,
Di sebuah cafe yang sedang hits katanya,
Menghadap jalan raya
Kamu dengan segelas con hielo favoritmu,
Dan aku dengan segelas red velvet yang ku pesan karna penasaran

Malam itu, kita saling bertukar cerita
Aku senang bisa mendengar ceritamu
Menatap wajahmu yang antusias ketika bercerita
Walaupun aku malu, karena aku tak cukup pandai menanggapi obrolanmu
Sedangkan ceritaku, selalu ditanggapi dengan baik sama kamu
Kita beda ya,
Aku gak sebagus itu ngobrolnya,
Sedangkan kamu bagus banget ngobrolnya

Seminggu setelah itu,
Ku kira kamu akan mengajakku ngobrol lagi seperti malam itu
Tapi mungkin aku kegeeran ya?
Mungkin cuma aku yang bahagia bisa menghabiskan waktu berdua sama kamu
Mungkin cuma aku yang menunggu-nunggu kapan hari itu ada lagi
Atau mungkin.. cuma aku ya.. yang paling sayang sama kamu?

Continue reading Cuma Kegeeran

Kelabu pertama

Ben memakai kaosnya sendiri kali ini. Semalam, Ben sudah berjanji pada mamak, di umurnya yang ke lima sejak hari itu, Ben akan belajar memakai bajunya sendiri.

"Wah, Ben pintar sekali." kepala Ben menoleh ke sumber suara. Mamak masuk dari balik pintu kamar Ben, memeluknya seraya mengucap, "trimakasih, sayang", lalu mencium pipi Ben, yang dibalas cium oleh Ben. 

"Sekarang, Ben cium bapak ya?" masih dengan senyuman yang mengembang, Ben mengangguk, mengikuti mamak yang menggandeng tangannya menuju tempat bapak berbaring. 

Biasanya, Ben selalu mencium pipi bapak sebelum tidur. Namun yang Ben lihat kala itu, bapak sudah tertidur duluan. 'mungkin bapak sudah sangat ngantuk', pikir Ben. 

Ben mengecup pipi bapak seperti biasa. Tapi kali itu, tidak seperti biasanya, pipi hangat bapak rasanya dingin. Ben bermaksud bertanya, tapi mamak sudah menarik tangannya duluan. 

"Ben, tolong ambil dan pakai sepatu sendiri, ya? Sekalian ambilkan jaket punya Ben dan punya mamak, bisa kan?" 

---

Ben berjalan dengan hati-hati menghindari genangan air. Sambil digandeng mamak, Ben berjalan menuju orang-orang yang mengerumuni tempat bapak berbaring.

Tempat bapak berbaring yang sudah tertutup, perlahan dimasukan kedalam lubang besar ke dalam tanah. Beberapa orang mulai mengais tanah dan menumpukkannya keatas tempat bapak berbaring. Melihat itu, Ben panik, "Mak, kenapa bapak dilempar tanah?"

Ben menoleh, dilihatnya mamak yg sudah menangis begitu deras. Mamak tidak menjawab apa-apa selain memeluk Ben. Ben bingung, panik, orang-orang disekelilingnya juga menangis.

"Mamak kenapa nangis? Bapak kenapa, mak? Kenapa mereka ndak berhenti ngelempar tanah?" Mamak semakin terisak sembari memeluk Ben lebih erat. Ben belum mengerti, tapi rasanya, hatinya kelabu.

Langit menurunkan hujan sedikit demi sedikit, bersamaan dengan Ben yang berteriak kencang sambil menangis di pelukan ibunya. Ia tidak begitu paham, mengapa sehari setelah ulang tahunnya, ia merasakan patah hati terhebat, ketika melihat ibunya sedih dengan teramat, dan bapak yg dilempar-lempar dengan tanah tanpa ada seorangpun yang menghentikannya.

Continue reading Kelabu pertama

If

“Enak ya, jadi kamu.” katamu sambil memakan pizza yang baru saja di pesan Pak Mulyo, setelah kita menghabiskan bekal makan siang ku.

Kamu membersihkan mulutmu dengan baju doraemon kebesaranmu, setelah aku membersihkan mulut dan tanganku dengan tisu yang Pak Mulyo sodorkan padaku. Bibirmu menyunggingkan senyum, ketika aku menyodorkan tisu padamu. Lalu kamu dengan cepat membersihkan mulut dan tanganmu dari sisa-sisa saus pizza.

Tak lama setelah itu, mamaku datang dengan mobil putihnya. Mama tidak turun dari kursi penumpang, hanya menurunkan kaca mobil, kemudian membalas sapaan sopan darimu dengan senyuman. Pak Mulyo segera membukakanku pintu agar aku dapat duduk di sebelah mama, lalu menutup pintu dan segera duduk disamping supir. Kamu berdiri sambil merapikan rambutmu yang selalu di ikat satu, beralih ke rok biru tua mu yang warnanya sudah pudar. Segera melontarkan kalimat, “hati-hati dijalan” sambil melambaikan tangan ketika mobil melaju pelan.

Dari balik kaca mobil, aku masih terus memandang kearahmu. Melihat senyummu yang lebar ketika ayahmu datang untuk mengajakmu bermain sambil membawa bola plastik yang kita gunakan untuk bermain kejar-kejaran kemarin. Kamu menyambut bola itu, lalu berusaha mengejar ayahmu yang berlari sambil tertawa menjauhimu.

 “Jangan lupa ya, Aldo” sesaat setelah kamu hilang dari pandangan, mama mengatakan ini.

“Kamu ada les matematika dan sains sebentar lagi. Trus malamnya, les bahasa inggris. Jadwal kamu udah mama atur. Les bahasa nya malam supaya kamu gak terlalu stres". Kalimat berulang itu sudah sering kudengar setiap mama menemukanku bertemu denganmu. Lebih tepatnya setelah dia tau kalau aku pernah bolos les hanya demi bermain denganmu. 

"Trus rencananya mama juga mau tambahin les musik di celah waktu olahraga mu setiap Sabtu dan Minggu. Mama rasa kamu juga harus mulai sering-sering ikut papa dan mama ke rumah sakit. Yang itu juga udah mama masukan ke jadwal mu. Kamu tau kan, menjadi kepala dokter itu ga mudah. Apalagi kamu udah kelas 7. Jadi...”

Omongan mama sudah tak terdengar lagi ketika tiba-tiba sebuah kalimatmu tadi melintas dalam pikiranku, yang perlahan mulai terngiang-ngiang dan membuatku larut.

“Enak ya, jadi kamu.”

 

 

Continue reading If

26 Maret 2020

Hanya bercanda. Iya kan?
Kukira kau hanya bercanda
Bermain-main dengan kata manis
Tapi sebenarnya kau tak serius

Adakah terbesit rasa jengkel ketika kau tahu aku bodoh?
Adakah terbesit rasa muak ketika aku selalu mengeluh?
Adakah terbesit rasa tak suka ketika aku tak pandai menanggapi dengan baik obrolanmu?
Aku sudah jujur berkali-kali pada diriku sendiri; aku sudah jatuh
Semudah itu

Lalu, apa yang kau lakukan sekarang?
Mempermainkan rasa sialan ini dengan semena-mena?

Sudah ku bilang, aku tak mau memulai
Lalu sekarang, aku jadi bodoh

Sudah ku bilang, kan, rasa sialan ini buat aku bodoh?

Logika sudah bilang berhenti, sungguh

Ah, bangsat!
Continue reading 26 Maret 2020

00:00 (Zero O'clock) - BTS (English)

This song is presented to you who have a heavy day. Whatever you face today, don't forget that you'll have the next day. After "zero o'clock", everything is reset and new day is ready to start again. Always hope and pray that you'll have the new strength to pass the new day..

Matthew 6 : 34 (NLT)
So don't worry about tomorrow, for tomorrow will bring its own worries. Today's trouble is enough for today.

You know those days
Those days where you're sad for no reason
Those days where your body is heavy
And it looks like everyone else except you is busy and fierce
My feet won't set off, though it seems like I'm already too late
I'm hateful of the world

Here and there are click-clacking speed bumps
My heart grows crumpled and my words lessen
Why the hell? I ran so hard
Oh, why to me

Come home and lie in bed
Thinking if it was my fault?
Dizzy night, looking at the clock
Soon it will be midnight

Will something be different?
It won't be something like that
But this day will be over
When the minute and second hands overlap
The world holds its breath for a little while
Zero o'clock

And you gonna be happy
Like that snow that just settle down
Let's breathe, like the first time
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock

The beat slips away little by little
I can't put on the easy face
I keep forgetting familiar lyrics
There's nothing going my way
Yes, it's all in the past
Even talking to myself, it's not easy
Is it my fault? Is it my wrong?
Only my echo comes back with no answer

Put my hands together to pray
Hoping that tomorrow I'll laugh more, for me
It'll be better, for me
When this song ends
My new song begins
Hoping that I'll be a little happier

And you gonna be happy
I hold my breath for a very brief moment
And give myself a pat today, as well
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock

Produce by Pdogg
Written by Pdogg, RM, Jessie Lauryn Foutz, Antonina Armato
Continue reading 00:00 (Zero O'clock) - BTS (English)

Jatuh.

Sudah ku bilang kan, aku mudah?
Bahkan sekarang, rasanya, aku sudah jatuh.

Menyangkal? Sering.
Aku sudah pernah jatuh beberapa kali
Dan selalu ku sangkal berkali-kali

Aku takut.
Tentu saja.

Hanya kali ini, aku mencoba untuk tidak menyangkal
Tapi masih dengan pikiran negatif yang terus berkeliaran

Dan jika memang ternyata dia tidak
Dan jika memang ternyata dia berhenti
Dan jika memang akhirnya hanya aku yang jatuh
Jujur, aku tak mau
Tapi, bukankah aku harus siap?
Continue reading Jatuh.

Egois.

Bukankah itu egois?

Didepan orang lain, saya selalu menjadi orang yang paling banyak cerita.
Dihadapan orang lain, saya selalu ingin didengar.
Konyolnya, saya pernah mengatakan kalau saya ini pendengar yang baik.
Nyatanya, itu hanya pengakuan dari pemikiran saya yang menggelikan.
Nyatanya, saya tidak mampu membuat orang lain betah menjadikan saya tempat bercerita.
Nyatanya, saya masih sering datang pada orang lain hanya untuk didengarkan.

Miris.
Saya begitu miris, karena pernah percaya diri tentang hal ini.

Bukankah itu egois?
Continue reading Egois.

Pelabelan

Waktu itu saya duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar dan ada suatu peringatan besar. Sekolah pun memutuskan untuk mengadakan lomba demi memperingati hari besar itu. Salah satu lombanya yaitu menyanyi. Masing-masing kelas harus memberikan perwakilan satu laki-laki dan satu perempuan untuk bernyanyi solo. Demi menyukseskan acara itu, wali kelas mengajak para murid untuk berdiskusi mengenai siapa yang harus menjadi perwakilan kelas kami.

Beberapa murid dengan semangat menunjuk seseorang untuk menjadi perwakilan solo perempuan dari kelas kami. Biarkan saya menggunakan 'V' sebagai inisial namanya. Gadis itu adalah gadis pintar dan cantik, kulitnya putih karena keturunan Tionghua, sering kali ranking 1 di kelas, beberapa kali tampil di atas panggung aula sekolah untuk bernyanyi. Sedangkan perwakilan laki-laki, para murid bersemangat menunjuk salah seorang teman saya yang juga pintar. Perawakannya agak rendah meskipun dia ganteng dan putih karena keturunan Tionghua juga. Cukup menjadi perhatian di kelas karena tingkah lakunya yang kadang kala konyol sampai membuat orang lain tergelak. Inisialnya, 'G'. G langsung menolak ketika ditunjuk. Meskipun begitu, wali kelas dan teman-teman saat itu tetap membujuknya.

Bu guru sempat bertanya, siapa yang bersedia mewakili kelas untuk lomba ini. Seorang anak laki-laki pun sempat mengangkat tangannya. Anak ini memiliki tubuh yang sedikit berisi dan warna kulitnya sawo matang. Dia bukan anak pintar dan ranking seperti V dan G, bahkan ia sering kali berada di urutan terakhir untuk ranking di kelas. Tapi yang saya tahu, dia punya suara yang indah. Saya beberapa kali mendengarnya bersenandung di kelas. Saya rasa menyanyi adalah hobinya. Saya akan menyebutnya, 'C'.

Sayangnya, pengajuannya saat itu tidak terlalu ditanggapi oleh bu guru. Sang guru hanya memperhatikan teman-teman yang hanya terus membujuk G untuk tampil. Yang lainnya seolah tak peduli, termasuk saya yang sama sekali tak ikut bersuara dari awal diskusi. Bu guru dan teman-teman pun tetap memaksa G untuk mewakili kelas. Lalu G menurut dengan terpaksa.

Saya tidak mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi C saat tahu bahwa dia tidak dipilih. Tapi sekilas, saya sempat melihat raut kecewa yang memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum dan mengangguk kala bu guru bilang, "Nanti dulu, ya. Kamu lain kali saja.". Kemudian saya ikut merenggut sedih dan sedikit berharap agar C yang seharusnya tampil.

Di hari H, V sudah maju ke dekat panggung untuk bersiap-siap. Sayangnya, G tiba-tiba menolak untuk tampil. Sang wali kelas kalang kabut. Memaksa G sudah tak bisa ia lakukan lagi karena G sama sekali tak mau. G dengan kekeuh menolak. Kala itu, V sudah selesai tampil dan yang harus tampil selanjutnya adalah G. Dalam kondisi genting itu, sang wali kelas akhirnya menarik C. Memasangkannya dasi kupu-kupu dan mendorongnya naik ke atas panggung. Kemudian kami, untuk pertama kalinya mendengarkan suara merdunya di atas panggung.

Setelah sekian lama hal itu terjadi, saya jadi berpikir, apa mereka tidak ada latihan? Mengapa G bisa hampir tampil kalau ternyata C yang sebenarnya lebih pantas mewakili kelas? Mengapa saat itu rasanya semua yang ditunjuk mewakili kelas hanya mereka yang pintar saja? Mengapa saat pemilihan perwakilan lomba menyanyi, tidak menyuruh mereka untuk membuktikan suaranya?

Kejadian tak menyenangkan semacam itu sering saya lihat dialami oleh C, karena saya selalu 1 kelas dengannya. Saya juga ingat waktu kelas 3, C pernah dihukum, disuruh buka baju, dan dadanya di gambar-gambar oleh bu guru. Melihatnya menangis, membuat saya jadi tak tega. Terakhir kali melihat C adalah waktu kami kelas 5. Ketika ia disuruh kedepan kelas untuk menyampaikan kata-kata terakhir kepada teman-teman dan bu guru, karena saat itu ia dinyatakan tidak naik kelas.

Setelah belasan tahun berlalu, kejadian itu masih berada di tumpukan ingatan-ingatan dalam kepala, yang entah mengapa ceritanya secara garis besar tak pernah saya lupakan. Kalau saja saya bertemu dengannya secara tak sengaja dan kami saling mengenal, itu pasti akan menjadi hal yang mengejutkan. Apalagi jika ada waktu untuk mengobrol beberapa waktu, mungkin saya akan menceritakan cerita itu lagi, kemudian memuji suara indahnya yang belum sempat saya katakan dulu. Sekalian meminta izin dan maaf, karena ceritanya diunggah disini. 

Tapi sebenarnya, saya juga tak yakin hal itu terjadi. 
Memuji suaranya? 
Hei, bukankah saya pemalu? Bagaimana saya bisa mengatakan hal itu terang-terangan padanya?
Continue reading Pelabelan
,

Senin, 30 Desember 2019

Pikiran negatif yang 'katanya' distorsi kognitif ini ternyata masih saja tinggal didalam kepala. Hal buruk yang kupikir sudah bisa kuatasi di tahun 2018, nyatanya kembali lagi. Mereka ini, entah kemarin memang sudah hilang, atau hanya sekedar bersembunyi di sela-sela ingatan. Lalu dengan kurang ajarnya, muncul lagi ke permukaan. Mendominasi pikiranku dengan mudahnya. Menghantuiku dengan kekuatannya. Membuatku bertanya-tanya, “Mengapa ini bisa terjadi lagi?”. Lalu dengan bodohnya, menyalahkan Yang Kuasa.

Awal tahun 2019, mereka kembali. Menyerangku seperti dulu. Bahkan ketika aku sudah banyak mengetahui alasan dan solusinya, mereka tetap tak bisa dicegah. Walaupun masih bisa kuatasi di beberapa situasi, mereka tetap berhasil membuatku merasakan hal yang sebelumnya tak pernah kurasakan, melakukan hal buruk yang sebelumnya tak pernah kulakukan.

Tahun 2020, aku hanya ingin mereka tak membuatku semakin buruk. Kalau memang mereka tak mau melepaskanku, setidaknya, jangan persulit aku. “Hei, aku membenci kalian, distorsi kognitif. Umurku sudah 22. Kau tak berhak mengganggu kehidupanku yang sudah seharusnya melangkah lebih maju ini. Jadi, biarkan aku mengendalikanmu”.
Continue reading Senin, 30 Desember 2019

BTS' Poems (English)

BTS' Poems @run BTS! Ep. 56
Aired on V LIVE, July 24th 2018


GOLD
By Jeon Jungkook

When my mother had me, she dreamed about golden rain
Wherever the rain goes, things turn into gold
I could not do anything
I met you in the golden time
I find myself starting to shine
At first I was gold
I looked around after a while
Everything around me turned into gold
I don't want to lose this priceless light


IT'S NOT A BIG DEAL
By Kim Taehyung

It's not a big deal, Seokjin
Don't be sad when you make a mistake while dancing
It's no big deal
You just don't have to make the same mistake
Cheer up, cheer up
Namjoon, don't panic after blowing a kiss
It's no big deal
Your blowing kiss makes a lot of army's hearts flutter
Pound, pound
Yoongi, you want to be a stone in your next life
Don't worry
It's not a big deal
I'll bring you to a lot of beautiful places
Stone, stone
Hoseok, you give us a scary look when we make a mistake on stage
Don't do that
It's no big deal
A slip of a wise man, everybody makes mistakes
Understand it with a warm smile
Bboing, bboing
Jimin, because of a diet and singing out of tune, or making a mistake on stage, don't be stressed out
It's no big deal
No matter you do on stage, it won't change the fact that you're the coolest performer I've ever seen
Gasp, gasp
Jungkook, stop exercising to tease us more
Iy's no big deal
The more you act cute, the cuter you look. You're not cute anymore
Coachie, coachie


TO BE TOGETHER 
By Park Jimin

To be together is very hard
To meet a stranger, to meet different people
I come to think if I make a mistake or what is wrong with that person
To be together is hard
But without them, I feel empty
When I'm happy, sad, or want to be comforted, they come to my mind to my surprise
Those who were with me are with me know as 'us' which I feel so grateful for
We became to share small things
I hope they stay healthy
Again today, we are together as night sets in
I think that is what being together is like


I GIYEOK
By Kim Namjoon

I remember
Taehyung's half buzz cut
Jungkook's Bambi eyes and stonewash skinny jeans
Hoseok's gray padded jacket
Yoongi's blue sweatpants
When Seokjin wasn't into dad jokes
Jimin's chubby body
I remember
Our Han River, our bikes, our Gxxx v necks, our Gxxx chino shorts, our showcase, our bulgogi, our chairs in the waiting room, and our blood sweat and tears
All those memories are in the corner of the drawer in my head
All those memories are like 'giyeok', the first Korean alphabet consonant
My precious first
So again today, 'I giyeok' memories


SEED (Mr.) 
By Jung Hoseok

Mr. Namjoon, Mr. Seokjin, Mr. Yoongi,  Mr. Jimin, Mr. Taehyung, Mr. Jungkook, and Mr. Hoseok
These seeds became beautiful flowers
They bring beauty to someone
They bring joy to someone
They bring the scent of memories to someone
Mr. Namjoon, Mr. Seokjin, Mr. Yoongi,  Mr. Jimin, Mr. Taehyung, Mr. Jungkook, and Mr. Hoseok
Bloom like a rose, flutter like a cherry blossom
Fall-like morning glory, like a morning glory
Just like a beautiful moment
Let's stick together
I love you
Saranghae


WHAT A RELIEF
By Min Yoongi


It's already been 5 years since we debuted
Just the boys with many dreams
We had nothing, but we have many things now
We were only dreaming, but we became a dream of someone
Life is full of choices and regrets
I'm scared, and so we are
We dreamed about flying high up in the sky
But it's too high and cold
It's hard to catch our breath
The Brighter the light on us, the darker the shadow
What a relief that we have 7 members
What a relief that we have each other


RUN BTS!
By Kim Seokjin

We worked around the clock
Run BTS! and BTS alike
Everything in the world gets tired
I want to hope that this is not the moment
I wanted to go with the flow
But I realize I'm a man who lives fiercely
We were always happy and achieved anything we want together
But we can't go against nature
Looking at myself growing older, I look back on out dance
I'm so tired
Mr. Seongduk, so many dance moves are too difficult, I trust you
Namjoon, let's go for it


Note:
'Seed' is the pronounciation of 'Mr' in Korean Language.
Continue reading BTS' Poems (English)

Senin, 9 Desember 2019

Aneh rasanya waktu beliau bilang bahwa semuanya berawal dari pikiran. Karena setiap kali mendapat situasi itu, rasanya jantungku berdetak sangat cepat tanpa otak sempat menangkap apa yang terjadi.

Dan yang lebih buruk adalah, ketika aku sudah lupa bagaimana rasanya cemas yang biasa kualami setelah cemas berlebihan yang kurasakan akhir-akhir ini.

Cemas berlebihan? 
Hei, bukankah ini sudah sembuh?

Continue reading Senin, 9 Desember 2019

Pura-pura Bahagia

Hari ini pikiran mendadak memunculkan kata-kata yang pernah terekam dalam memori, 
"Ternyata pura-pura bahagia itu melelahkan."

Tapi, bukankah lebih baik kata-kata itu diubah menjadi,
"Ternyata pura-pura bahagia itu cukup menyenangkan.", huh?

Lalu, kau akan bertanya, 
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu?"

Maka, aku juga akan bertanya, 
"Bagaimana caramu berpura-pura bahagia?"

Continue reading Pura-pura Bahagia

Terdiagnosa

Bulan lalu akhirnya saya memutuskan untuk menemui psikolog setelah mengalami kecemasan yang luar biasa saat menghadapi skripsi; dada yang begitu sakit, sesak sampai kesulitan bernapas, lalu berakhir dengan menyakiti diri karena tak ada air mata yang keluar sebagai pelampiasan. Masalahnya, kejadian itu masih berlanjut keesokan harinya, di waktu-waktu yang tak terduga. Saya takut bahkan ketika baru bangun tidur, ketika melihat laptop, ketika melihat notifikasi email mengenai laporan pasang surut yang - entah dari mana - sering muncul di layar hp, sampai menghindari salah satu mata kuliah yang sudah diambil tanpa peduli akan dapat E. Saya mulai mengkhawatirkan hal-hal yang akan terjadi kedepannya. Menemui psikolog pun akhirnya menjadi salah satu pilihan yang saya ambil.

Bertemu psikolog memang hal yang pernah ingin saya lakukan sebelumnya, setelah menyadari ada yang aneh dengan diri saya, terutama pikiran. Tapi saya pikir, saya tidak sakit parah. Hal ini lumrah dialami oleh setiap orang. Jadi saya mengurungkan niat itu, sampai akhirnya situasi itu muncul.

Intensitas pertemuan dengan psikolog tidak lama sampai beliau mendiagnosa bahwa saya memiliki distorsi kognitif, atau, kata beliau, kesalahan berpikir. Apa itu penyakit? Entahlah. Tapi saya merasa hampir semua orang pernah mengalaminya.

Pertemuan kami berakhir dengan penjelasan beliau mengenai macam-macam distorsi kognitif dan cara-cara yang harus saya lakukan untuk mengatasinya, kemudian beliau juga menyemangati saya, mengatakan bahwa saya bisa, saya mampu, dan harapannya bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Saya disuruh untuk berjuang sendiri.

Senyum dan tawa saya lontarkan setiap kali beliau bilang kalau 'saya mampu'. Alasannya? Konyol. Sangat konyol. Tentu saja. Pikiran saya sudah seburuk ini. Jadi? Mampu? Cih. Lelucon macam apa itu? Maaf, tapi pikiran saya menolak untuk percaya.

Tapi saya juga menangis disitu. Entah karena luapan emosi yang sudah ditahan sejak beberapa menit sebelumnya, atau karena kata-kata semangatnya. Entah beliau sadar atau tidak, air mata saya sempat jatuh beberapa kali.

Jujur, saya belum benar-benar puas. Saya membayangkan ada terapi untuk saya agar masalah ini cepat selesai. Meskipun begitu, satu hal sudah saya temukan setelah sekian lama menebak-nebak apa yang terjadi dengan diri saya. Dan jika di lihat pada kilas balik, saya pernah melakukan cara-cara itu sebelum bertemu psikolog. Sebentar, apa ini terlihat.. angkuh?

Situasi yang saya hadapi kali ini berbeda dengan apa yang saya coba atasi sebelumnya. Kali ini, rasanya, lebih sulit. Entah karena situasi, atau.......
karena terlalu keras kepala?


Continue reading Terdiagnosa

Hujan

Banyak orang yang menyukai hujan
Tapi aku tidak
Ketika aku merenung dan memandangnya dari balik jendela, aku tidak meyukainya
Air-air itu seperti membawaku kepada kilas balik yang menyedihkan
Rasanya pedih
Sama pedihnya seperti tanah yang dihujam air itu bertubi-tubi

Tapi

Hujan bisa membuatku cepat terlelap
Ketika aku berbaring dikamar,
deras suaranya mengundang kantukku lebih cepat
Membuatku meringkuk dengan nyaman
Membuatku lega dan melupakan rasa sedih

Aku memang membenci hujan

Tapi

Hei, ternyata tidak seburuk itu

-Oktober, 2018-
Continue reading Hujan

Tentang Blog Ini

Ada beberapa hal yang kupikirkan tentang blog ini. Maksudku, tulisan-tulisan yang ku unggah disini.

Dari awal, aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat malu jika ada orang yang kukenal membaca tulisan-tulisanku. Tapi aku tak menampik kalau aku ingin, setidaknya, ada beberapa orang yang tahu mengenai blog ini.

Awalnya, blog ini ingin kujadikan penyalur hobiku dalam menulis. Walaupun sepertinya tulisanku tak menarik, setidaknya impianku tersalurkan : punya blog dan menulis. Tapi sebenarnya, yang kuharapkan bukan tulisan-tulisan seperti ini. Aku mengharapkan tulisan-tulisan menarik dan bermakna.
Kenyataannya? Kurasa tulisanku hanya penuh dengan curhatan-curhatan. Contohnya postingan yang judulnya "gumul". Di beranda memang kelihatannya tulisan rohani, tapi isinya sebenarnya curhatan.

Sejauh ini, tulisan tentang 'menikah' adalah yang terpanjang. Padahal, aku tak pernah pacaran. Lucu sekali. Membahas tentang pasangan, tapi tak pernah merasakan punya pasangan. Hanya sebatas berandai-andai tentang masa depan.

Aku pernah menemukan blog (atau wordpress, aku lupa) berisi kisah si penulis, seperti kumpulan diary yang dia posting kedalam blognya. Tapi tulisannya bagus, bukan yang seperti ini. Aku tidak tahu apakah ada juga blog yang isinya melulu curhatan picisan seperti ini. Entahlah, sepertinya blog ini memang sangat tidak menarik.

Oh, ada tambahan. Mengenai kegelisahanku. Ini tentang Tugas Akhir (skripsi). Sebenarnya masih proposal, tapi ini benar-benar membingungkan. Seminggu terakhir aku terkena asam lambung yang membuat moodku semakin memburuk dalam mengerjakan proposal. Ini menyebalkan. Aku mahasiswa akhir yang ingin cepat-cepat lulus, tapi sesulit ini rupanya.

Ada yang sama sepertiku? Kalau ada, ayo kita berjuang mengakhiri status mahasiswa ini sebagai penerima nilai sidang yang baik dengan pakaian toga yang membanggakan orang tua. Ayo berjuang! :)

Continue reading Tentang Blog Ini

Novel

Pernahkah novel menjadi alasanmu hobi membaca?

Aku pernah.

Dulu, jaman putih biru dan putih abu-abu, aku suka membaca novel. Setiap kali pergi ke mall, gramedia selalu menjadi tempat yang tak pernah tak ku kunjungi. Keluar dari gramedia, tanganku memang tak pernah kosong. Setidaknya, ada satu buku yang kubawa pulang.

Novel-novelku tersusun rapi diatas meja. Walau pada kenyataannya, ada cukup banyak yang hilang entah kemana.

Soal genre? Aku tak pernah punya genre favorit. Dari cerita romansa, humor garing, cerita dari blog, sampai kisah konyol nan dodol pun pernah ku beli.

Aku tak pernah tau novel yang sedang laris, atau yang terbaru. Aku tak pernah mengikuti perkembangan terbaru soal novel-novel yang ada di toko buku itu, atau buku yang sedang digemari anak-anak muda pada jamannya. Yang ku tahu hanya datang kesana, baca sinopsis, membayangkan kisahnya, lalu membeli. Alasan lain juga karena rekomendasi dari orang yang menemaniku berburu novel saat itu.

Menyenangkan? Tentu saja. Aku suka sekali membaca (cerita fiksi seringnya). Novel itu temanku kala libur dan bosan.

Tapi itu dulu.

Semenjak kuliah, novel sudah menjadi masa lalu. Kalau ditanya, "Kapan terakhir kali baca novel?", jawabannya, mungkin tahun lalu. Tapi novel yang kubaca itu tidak membekas. Hanya seperti angin lalu.  Novel yang ku ingat hanya Dilan, yang kubaca beberapa tahun yang lalu.

Setelah sekian lama, novel sudah bukan bagian dari kesenanganku lagi.

Kemudian, banyak pertanyaan muncul dikepalaku.
"Mengapa?"
"Bagaimana bisa?"

Berbagai spekulasi dalam kepalaku muncul, seperti,
"Apa kemalasanku sudah akut sampai-sampai menyerang hobi?"

Lalu, nanti, apa membaca novel bisa menjadi hobiku lagi?
Continue reading Novel

Confusion on May 21, 2019

When i said that i have a problem with mental health, my mom said "no, you don't!"
When i said that i am sick, my mom said "no! You are not sick."
When i said that i need to go to the psychologist, my mom said, "why? You don't need it. You're healthy."
When i told to my mom about my friend who got mental illness and she got depressed just like me, she said, "why are you hurting me? You're not sick! Stop talking about that. You make me really sad, i feel that i failed to be a good parent for you."
And suddenly i stopped.

But, somehow, my mom said, "if you want to go to the psychologist, i allowing you. Maybe you need it. Just in case you can be more confident and be thankful for your life."
It was surprising to me. But, somehow, i was thinking that i'm too much. So, i said to her, "i don't need it. I can fix myself alone."
My mom was confused, but she never force me.

But, a few days ago, i said to my mom, "i can't stand it anymore. I really can't fix it. This is so hard. I really need a psychologist."
But, unexpectedly, my mom answered, "please be mature, my daughter. Don't hurt yourself. Just try to think about your future and your family. We need you to be healthy. Don't think too much, it will hurt you. Stop thinking about going to a psychologist or whatever. You're strong. You don't need to go there yet. You can fix it by yourself."
After that, i was thinking like what my mom said.

But suddenly, i just watched a video about so many people have problems, many people can have mental illness. It said, "if you have mental illness, and you can't stand it, and make you hurt yourself even other people, please go to a psychologist. It's important for you and people around you."

Now i'm thinking.
I have ever hurted and thought to hurt myself because of (i think) my depression. But now, for these days, i never do that again. At least, rarely. So, should i go to the psychologist when i feel that i don't need it?
Continue reading Confusion on May 21, 2019