Egois.

Bukankah itu egois?

Didepan orang lain, saya selalu menjadi orang yang paling banyak cerita.
Dihadapan orang lain, saya selalu ingin didengar.
Konyolnya, saya pernah mengatakan kalau saya ini pendengar yang baik.
Nyatanya, itu hanya pengakuan dari pemikiran saya yang menggelikan.
Nyatanya, saya tidak mampu membuat orang lain betah menjadikan saya tempat bercerita.
Nyatanya, saya masih sering datang pada orang lain hanya untuk didengarkan.

Miris.
Saya begitu miris, karena pernah percaya diri tentang hal ini.

Bukankah itu egois?
Continue reading Egois.

Pelabelan

Waktu itu saya duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar dan ada suatu peringatan besar. Sekolah pun memutuskan untuk mengadakan lomba demi memperingati hari besar itu. Salah satu lombanya yaitu menyanyi. Masing-masing kelas harus memberikan perwakilan satu laki-laki dan satu perempuan untuk bernyanyi solo. Demi menyukseskan acara itu, wali kelas mengajak para murid untuk berdiskusi mengenai siapa yang harus menjadi perwakilan kelas kami.

Beberapa murid dengan semangat menunjuk seseorang untuk menjadi perwakilan solo perempuan dari kelas kami. Biarkan saya menggunakan 'V' sebagai inisial namanya. Gadis itu adalah gadis pintar dan cantik, kulitnya putih karena keturunan Tionghua, sering kali ranking 1 di kelas, beberapa kali tampil di atas panggung aula sekolah untuk bernyanyi. Sedangkan perwakilan laki-laki, para murid bersemangat menunjuk salah seorang teman saya yang juga pintar. Perawakannya agak rendah meskipun dia ganteng dan putih karena keturunan Tionghua juga. Cukup menjadi perhatian di kelas karena tingkah lakunya yang kadang kala konyol sampai membuat orang lain tergelak. Inisialnya, 'G'. G langsung menolak ketika ditunjuk. Meskipun begitu, wali kelas dan teman-teman saat itu tetap membujuknya.

Bu guru sempat bertanya, siapa yang bersedia mewakili kelas untuk lomba ini. Seorang anak laki-laki pun sempat mengangkat tangannya. Anak ini memiliki tubuh yang sedikit berisi dan warna kulitnya sawo matang. Dia bukan anak pintar dan ranking seperti V dan G, bahkan ia sering kali berada di urutan terakhir untuk ranking di kelas. Tapi yang saya tahu, dia punya suara yang indah. Saya beberapa kali mendengarnya bersenandung di kelas. Saya rasa menyanyi adalah hobinya. Saya akan menyebutnya, 'C'.

Sayangnya, pengajuannya saat itu tidak terlalu ditanggapi oleh bu guru. Sang guru hanya memperhatikan teman-teman yang hanya terus membujuk G untuk tampil. Yang lainnya seolah tak peduli, termasuk saya yang sama sekali tak ikut bersuara dari awal diskusi. Bu guru dan teman-teman pun tetap memaksa G untuk mewakili kelas. Lalu G menurut dengan terpaksa.

Saya tidak mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi C saat tahu bahwa dia tidak dipilih. Tapi sekilas, saya sempat melihat raut kecewa yang memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum dan mengangguk kala bu guru bilang, "Nanti dulu, ya. Kamu lain kali saja.". Kemudian saya ikut merenggut sedih dan sedikit berharap agar C yang seharusnya tampil.

Di hari H, V sudah maju ke dekat panggung untuk bersiap-siap. Sayangnya, G tiba-tiba menolak untuk tampil. Sang wali kelas kalang kabut. Memaksa G sudah tak bisa ia lakukan lagi karena G sama sekali tak mau. G dengan kekeuh menolak. Kala itu, V sudah selesai tampil dan yang harus tampil selanjutnya adalah G. Dalam kondisi genting itu, sang wali kelas akhirnya menarik C. Memasangkannya dasi kupu-kupu dan mendorongnya naik ke atas panggung. Kemudian kami, untuk pertama kalinya mendengarkan suara merdunya di atas panggung.

Setelah sekian lama hal itu terjadi, saya jadi berpikir, apa mereka tidak ada latihan? Mengapa G bisa hampir tampil kalau ternyata C yang sebenarnya lebih pantas mewakili kelas? Mengapa saat itu rasanya semua yang ditunjuk mewakili kelas hanya mereka yang pintar saja? Mengapa saat pemilihan perwakilan lomba menyanyi, tidak menyuruh mereka untuk membuktikan suaranya?

Kejadian tak menyenangkan semacam itu sering saya lihat dialami oleh C, karena saya selalu 1 kelas dengannya. Saya juga ingat waktu kelas 3, C pernah dihukum, disuruh buka baju, dan dadanya di gambar-gambar oleh bu guru. Melihatnya menangis, membuat saya jadi tak tega. Terakhir kali melihat C adalah waktu kami kelas 5. Ketika ia disuruh kedepan kelas untuk menyampaikan kata-kata terakhir kepada teman-teman dan bu guru, karena saat itu ia dinyatakan tidak naik kelas.

Setelah belasan tahun berlalu, kejadian itu masih berada di tumpukan ingatan-ingatan dalam kepala, yang entah mengapa ceritanya secara garis besar tak pernah saya lupakan. Kalau saja saya bertemu dengannya secara tak sengaja dan kami saling mengenal, itu pasti akan menjadi hal yang mengejutkan. Apalagi jika ada waktu untuk mengobrol beberapa waktu, mungkin saya akan menceritakan cerita itu lagi, kemudian memuji suara indahnya yang belum sempat saya katakan dulu. Sekalian meminta izin dan maaf, karena ceritanya diunggah disini. 

Tapi sebenarnya, saya juga tak yakin hal itu terjadi. 
Memuji suaranya? 
Hei, bukankah saya pemalu? Bagaimana saya bisa mengatakan hal itu terang-terangan padanya?
Continue reading Pelabelan