Novel

Pernahkah novel menjadi alasanmu hobi membaca?

Aku pernah.

Dulu, jaman putih biru dan putih abu-abu, aku suka membaca novel. Setiap kali pergi ke mall, gramedia selalu menjadi tempat yang tak pernah tak ku kunjungi. Keluar dari gramedia, tanganku memang tak pernah kosong. Setidaknya, ada satu buku yang kubawa pulang.

Novel-novelku tersusun rapi diatas meja. Walau pada kenyataannya, ada cukup banyak yang hilang entah kemana.

Soal genre? Aku tak pernah punya genre favorit. Dari cerita romansa, humor garing, cerita dari blog, sampai kisah konyol nan dodol pun pernah ku beli.

Aku tak pernah tau novel yang sedang laris, atau yang terbaru. Aku tak pernah mengikuti perkembangan terbaru soal novel-novel yang ada di toko buku itu, atau buku yang sedang digemari anak-anak muda pada jamannya. Yang ku tahu hanya datang kesana, baca sinopsis, membayangkan kisahnya, lalu membeli. Alasan lain juga karena rekomendasi dari orang yang menemaniku berburu novel saat itu.

Menyenangkan? Tentu saja. Aku suka sekali membaca (cerita fiksi seringnya). Novel itu temanku kala libur dan bosan.

Tapi itu dulu.

Semenjak kuliah, novel sudah menjadi masa lalu. Kalau ditanya, "Kapan terakhir kali baca novel?", jawabannya, mungkin tahun lalu. Tapi novel yang kubaca itu tidak membekas. Hanya seperti angin lalu.  Novel yang ku ingat hanya Dilan, yang kubaca beberapa tahun yang lalu.

Setelah sekian lama, novel sudah bukan bagian dari kesenanganku lagi.

Kemudian, banyak pertanyaan muncul dikepalaku.
"Mengapa?"
"Bagaimana bisa?"

Berbagai spekulasi dalam kepalaku muncul, seperti,
"Apa kemalasanku sudah akut sampai-sampai menyerang hobi?"

Lalu, nanti, apa membaca novel bisa menjadi hobiku lagi?
Continue reading Novel