“Ma, della kemarin jadi WL.”
“Apa, tuh?”
“Worship leader, pemimpin pujian.
Tapi jadi pemimpin pujian untuk anak-anak.”
“Wahh, baguslaah. Tercapai, ya, keinginan
Della. Kan, Della pernah nanya-nanya Yabes (nama panggilan temenku) tentang guru sekolah minggu di gereja situ.”
Seketika kilas balik ke sembilan tahun yang lalu, saat aku menghubungi temanku (mamanya seorang guru sekolah minggu), menanyakan soal pelayanan mengajar anak-anak di gereja itu.
"Langsung tanya mamaku, lah."
Jawabannya bukan penolakan, memang. Hanya saja membuatku agak tersinggung. Lalu, ketidak-pede-an membuatku dengan mudah mengurungkan niat. ‘Yah, mungkin saat itu bukan waktunya Tuhan’, pikirku sekarang
ini.
Sembilan tahun kemudian, aku ada dalam sebuah pelayanan gereja. Mengajari anak-anak pelajaran umum di Rumah
Belajar ke desa-desa. Tanggal 23 Mei kemarin adalah kali kedua aku ikut pelayanan
ke Rumah Belajar.
Bukan kesengajaan. Tapi pelan-pelan
Tuhan antarkan aku ke situasi yang pernah kuinginkan dulu. Di mulai saat aku 'dijaring' salah satu hamba Tuhan untuk ikut kelompok rayon (aku sendiri pernah ngomong dalam hati, 'pengen punya kelompok kecil gereja, deh'), lalu ditawarkan untuk ikut pelayanan ke Rumah Belajar.
“Bersenang-senang, lah, ya kamu di
rumah belajar nanti.” Kata konselor gereja yang baru-baru ini ku temui beberapa
kali.
Tapi, benar katanya; aku bersenang-senang.
Walaupun sempat mabuk darat sampai muntah, kehilangan mood untuk makan
siang karena perut yang rasanya tak nyaman, pelayanan kemarin terasa seperti ‘healing’
di tengah pekerjaan yang membuat mumet kepala.
Setelah pengalaman ini, rasanya,
aku harus membiarkan kegiatan ini menjadi ‘healing’, kan, ya?
.jpeg)

