If

“Enak ya, jadi kamu.” katamu sambil memakan pizza yang baru saja di pesan Pak Mulyo, setelah kita menghabiskan bekal makan siang ku.

Kamu membersihkan mulutmu dengan baju doraemon kebesaranmu, setelah aku membersihkan mulut dan tanganku dengan tisu yang Pak Mulyo sodorkan padaku. Bibirmu menyunggingkan senyum, ketika aku menyodorkan tisu padamu. Lalu kamu dengan cepat membersihkan mulut dan tanganmu dari sisa-sisa saus pizza.

Tak lama setelah itu, mamaku datang dengan mobil putihnya. Mama tidak turun dari kursi penumpang, hanya menurunkan kaca mobil, kemudian membalas sapaan sopan darimu dengan senyuman. Pak Mulyo segera membukakanku pintu agar aku dapat duduk di sebelah mama, lalu menutup pintu dan segera duduk disamping supir. Kamu berdiri sambil merapikan rambutmu yang selalu di ikat satu, beralih ke rok biru tua mu yang warnanya sudah pudar. Segera melontarkan kalimat, “hati-hati dijalan” sambil melambaikan tangan ketika mobil melaju pelan.

Dari balik kaca mobil, aku masih terus memandang kearahmu. Melihat senyummu yang lebar ketika ayahmu datang untuk mengajakmu bermain sambil membawa bola plastik yang kita gunakan untuk bermain kejar-kejaran kemarin. Kamu menyambut bola itu, lalu berusaha mengejar ayahmu yang berlari sambil tertawa menjauhimu.

 “Jangan lupa ya, Aldo” sesaat setelah kamu hilang dari pandangan, mama mengatakan ini.

“Kamu ada les matematika dan sains sebentar lagi. Trus malamnya, les bahasa inggris. Jadwal kamu udah mama atur. Les bahasa nya malam supaya kamu gak terlalu stres". Kalimat berulang itu sudah sering kudengar setiap mama menemukanku bertemu denganmu. Lebih tepatnya setelah dia tau kalau aku pernah bolos les hanya demi bermain denganmu. 

"Trus rencananya mama juga mau tambahin les musik di celah waktu olahraga mu setiap Sabtu dan Minggu. Mama rasa kamu juga harus mulai sering-sering ikut papa dan mama ke rumah sakit. Yang itu juga udah mama masukan ke jadwal mu. Kamu tau kan, menjadi kepala dokter itu ga mudah. Apalagi kamu udah kelas 7. Jadi...”

Omongan mama sudah tak terdengar lagi ketika tiba-tiba sebuah kalimatmu tadi melintas dalam pikiranku, yang perlahan mulai terngiang-ngiang dan membuatku larut.

“Enak ya, jadi kamu.”

 

 

Continue reading If