,

Senin, 30 Desember 2019

Pikiran negatif yang 'katanya' distorsi kognitif ini ternyata masih saja tinggal didalam kepala. Hal buruk yang kupikir sudah bisa kuatasi di tahun 2018, nyatanya kembali lagi. Mereka ini, entah kemarin memang sudah hilang, atau hanya sekedar bersembunyi di sela-sela ingatan. Lalu dengan kurang ajarnya, muncul lagi ke permukaan. Mendominasi pikiranku dengan mudahnya. Menghantuiku dengan kekuatannya. Membuatku bertanya-tanya, “Mengapa ini bisa terjadi lagi?”. Lalu dengan bodohnya, menyalahkan Yang Kuasa.

Awal tahun 2019, mereka kembali. Menyerangku seperti dulu. Bahkan ketika aku sudah banyak mengetahui alasan dan solusinya, mereka tetap tak bisa dicegah. Walaupun masih bisa kuatasi di beberapa situasi, mereka tetap berhasil membuatku merasakan hal yang sebelumnya tak pernah kurasakan, melakukan hal buruk yang sebelumnya tak pernah kulakukan.

Tahun 2020, aku hanya ingin mereka tak membuatku semakin buruk. Kalau memang mereka tak mau melepaskanku, setidaknya, jangan persulit aku. “Hei, aku membenci kalian, distorsi kognitif. Umurku sudah 22. Kau tak berhak mengganggu kehidupanku yang sudah seharusnya melangkah lebih maju ini. Jadi, biarkan aku mengendalikanmu”.
Continue reading Senin, 30 Desember 2019

BTS' Poems (English)

BTS' Poems @run BTS! Ep. 56
Aired on V LIVE, July 24th 2018


GOLD
By Jeon Jungkook

When my mother had me, she dreamed about golden rain
Wherever the rain goes, things turn into gold
I could not do anything
I met you in the golden time
I find myself starting to shine
At first I was gold
I looked around after a while
Everything around me turned into gold
I don't want to lose this priceless light


IT'S NOT A BIG DEAL
By Kim Taehyung

It's not a big deal, Seokjin
Don't be sad when you make a mistake while dancing
It's no big deal
You just don't have to make the same mistake
Cheer up, cheer up
Namjoon, don't panic after blowing a kiss
It's no big deal
Your blowing kiss makes a lot of army's hearts flutter
Pound, pound
Yoongi, you want to be a stone in your next life
Don't worry
It's not a big deal
I'll bring you to a lot of beautiful places
Stone, stone
Hoseok, you give us a scary look when we make a mistake on stage
Don't do that
It's no big deal
A slip of a wise man, everybody makes mistakes
Understand it with a warm smile
Bboing, bboing
Jimin, because of a diet and singing out of tune, or making a mistake on stage, don't be stressed out
It's no big deal
No matter you do on stage, it won't change the fact that you're the coolest performer I've ever seen
Gasp, gasp
Jungkook, stop exercising to tease us more
Iy's no big deal
The more you act cute, the cuter you look. You're not cute anymore
Coachie, coachie


TO BE TOGETHER 
By Park Jimin

To be together is very hard
To meet a stranger, to meet different people
I come to think if I make a mistake or what is wrong with that person
To be together is hard
But without them, I feel empty
When I'm happy, sad, or want to be comforted, they come to my mind to my surprise
Those who were with me are with me know as 'us' which I feel so grateful for
We became to share small things
I hope they stay healthy
Again today, we are together as night sets in
I think that is what being together is like


I GIYEOK
By Kim Namjoon

I remember
Taehyung's half buzz cut
Jungkook's Bambi eyes and stonewash skinny jeans
Hoseok's gray padded jacket
Yoongi's blue sweatpants
When Seokjin wasn't into dad jokes
Jimin's chubby body
I remember
Our Han River, our bikes, our Gxxx v necks, our Gxxx chino shorts, our showcase, our bulgogi, our chairs in the waiting room, and our blood sweat and tears
All those memories are in the corner of the drawer in my head
All those memories are like 'giyeok', the first Korean alphabet consonant
My precious first
So again today, 'I giyeok' memories


SEED (Mr.) 
By Jung Hoseok

Mr. Namjoon, Mr. Seokjin, Mr. Yoongi,  Mr. Jimin, Mr. Taehyung, Mr. Jungkook, and Mr. Hoseok
These seeds became beautiful flowers
They bring beauty to someone
They bring joy to someone
They bring the scent of memories to someone
Mr. Namjoon, Mr. Seokjin, Mr. Yoongi,  Mr. Jimin, Mr. Taehyung, Mr. Jungkook, and Mr. Hoseok
Bloom like a rose, flutter like a cherry blossom
Fall-like morning glory, like a morning glory
Just like a beautiful moment
Let's stick together
I love you
Saranghae


WHAT A RELIEF
By Min Yoongi


It's already been 5 years since we debuted
Just the boys with many dreams
We had nothing, but we have many things now
We were only dreaming, but we became a dream of someone
Life is full of choices and regrets
I'm scared, and so we are
We dreamed about flying high up in the sky
But it's too high and cold
It's hard to catch our breath
The Brighter the light on us, the darker the shadow
What a relief that we have 7 members
What a relief that we have each other


RUN BTS!
By Kim Seokjin

We worked around the clock
Run BTS! and BTS alike
Everything in the world gets tired
I want to hope that this is not the moment
I wanted to go with the flow
But I realize I'm a man who lives fiercely
We were always happy and achieved anything we want together
But we can't go against nature
Looking at myself growing older, I look back on out dance
I'm so tired
Mr. Seongduk, so many dance moves are too difficult, I trust you
Namjoon, let's go for it


Note:
'Seed' is the pronounciation of 'Mr' in Korean Language.
Continue reading BTS' Poems (English)

Senin, 9 Desember 2019

Aneh rasanya waktu beliau bilang bahwa semuanya berawal dari pikiran. Karena setiap kali mendapat situasi itu, rasanya jantungku berdetak sangat cepat tanpa otak sempat menangkap apa yang terjadi.

Dan yang lebih buruk adalah, ketika aku sudah lupa bagaimana rasanya cemas yang biasa kualami setelah cemas berlebihan yang kurasakan akhir-akhir ini.

Cemas berlebihan? 
Hei, bukankah ini sudah sembuh?

Continue reading Senin, 9 Desember 2019

Pura-pura Bahagia

Hari ini pikiran mendadak memunculkan kata-kata yang pernah terekam dalam memori, 
"Ternyata pura-pura bahagia itu melelahkan."

Tapi, bukankah lebih baik kata-kata itu diubah menjadi,
"Ternyata pura-pura bahagia itu cukup menyenangkan.", huh?

Lalu, kau akan bertanya, 
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu?"

Maka, aku juga akan bertanya, 
"Bagaimana caramu berpura-pura bahagia?"

Continue reading Pura-pura Bahagia

Terdiagnosa

Bulan lalu akhirnya saya memutuskan untuk menemui psikolog setelah mengalami kecemasan yang luar biasa saat menghadapi skripsi; dada yang begitu sakit, sesak sampai kesulitan bernapas, lalu berakhir dengan menyakiti diri karena tak ada air mata yang keluar sebagai pelampiasan. Masalahnya, kejadian itu masih berlanjut keesokan harinya, di waktu-waktu yang tak terduga. Saya takut bahkan ketika baru bangun tidur, ketika melihat laptop, ketika melihat notifikasi email mengenai laporan pasang surut yang - entah dari mana - sering muncul di layar hp, sampai menghindari salah satu mata kuliah yang sudah diambil tanpa peduli akan dapat E. Saya mulai mengkhawatirkan hal-hal yang akan terjadi kedepannya. Menemui psikolog pun akhirnya menjadi salah satu pilihan yang saya ambil.

Bertemu psikolog memang hal yang pernah ingin saya lakukan sebelumnya, setelah menyadari ada yang aneh dengan diri saya, terutama pikiran. Tapi saya pikir, saya tidak sakit parah. Hal ini lumrah dialami oleh setiap orang. Jadi saya mengurungkan niat itu, sampai akhirnya situasi itu muncul.

Intensitas pertemuan dengan psikolog tidak lama sampai beliau mendiagnosa bahwa saya memiliki distorsi kognitif, atau, kata beliau, kesalahan berpikir. Apa itu penyakit? Entahlah. Tapi saya merasa hampir semua orang pernah mengalaminya.

Pertemuan kami berakhir dengan penjelasan beliau mengenai macam-macam distorsi kognitif dan cara-cara yang harus saya lakukan untuk mengatasinya, kemudian beliau juga menyemangati saya, mengatakan bahwa saya bisa, saya mampu, dan harapannya bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Saya disuruh untuk berjuang sendiri.

Senyum dan tawa saya lontarkan setiap kali beliau bilang kalau 'saya mampu'. Alasannya? Konyol. Sangat konyol. Tentu saja. Pikiran saya sudah seburuk ini. Jadi? Mampu? Cih. Lelucon macam apa itu? Maaf, tapi pikiran saya menolak untuk percaya.

Tapi saya juga menangis disitu. Entah karena luapan emosi yang sudah ditahan sejak beberapa menit sebelumnya, atau karena kata-kata semangatnya. Entah beliau sadar atau tidak, air mata saya sempat jatuh beberapa kali.

Jujur, saya belum benar-benar puas. Saya membayangkan ada terapi untuk saya agar masalah ini cepat selesai. Meskipun begitu, satu hal sudah saya temukan setelah sekian lama menebak-nebak apa yang terjadi dengan diri saya. Dan jika di lihat pada kilas balik, saya pernah melakukan cara-cara itu sebelum bertemu psikolog. Sebentar, apa ini terlihat.. angkuh?

Situasi yang saya hadapi kali ini berbeda dengan apa yang saya coba atasi sebelumnya. Kali ini, rasanya, lebih sulit. Entah karena situasi, atau.......
karena terlalu keras kepala?


Continue reading Terdiagnosa

Hujan

Banyak orang yang menyukai hujan
Tapi aku tidak
Ketika aku merenung dan memandangnya dari balik jendela, aku tidak meyukainya
Air-air itu seperti membawaku kepada kilas balik yang menyedihkan
Rasanya pedih
Sama pedihnya seperti tanah yang dihujam air itu bertubi-tubi

Tapi

Hujan bisa membuatku cepat terlelap
Ketika aku berbaring dikamar,
deras suaranya mengundang kantukku lebih cepat
Membuatku meringkuk dengan nyaman
Membuatku lega dan melupakan rasa sedih

Aku memang membenci hujan

Tapi

Hei, ternyata tidak seburuk itu

-Oktober, 2018-
Continue reading Hujan

Tentang Blog Ini

Ada beberapa hal yang kupikirkan tentang blog ini. Maksudku, tulisan-tulisan yang ku unggah disini.

Dari awal, aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat malu jika ada orang yang kukenal membaca tulisan-tulisanku. Tapi aku tak menampik kalau aku ingin, setidaknya, ada beberapa orang yang tahu mengenai blog ini.

Awalnya, blog ini ingin kujadikan penyalur hobiku dalam menulis. Walaupun sepertinya tulisanku tak menarik, setidaknya impianku tersalurkan : punya blog dan menulis. Tapi sebenarnya, yang kuharapkan bukan tulisan-tulisan seperti ini. Aku mengharapkan tulisan-tulisan menarik dan bermakna.
Kenyataannya? Kurasa tulisanku hanya penuh dengan curhatan-curhatan. Contohnya postingan yang judulnya "gumul". Di beranda memang kelihatannya tulisan rohani, tapi isinya sebenarnya curhatan.

Sejauh ini, tulisan tentang 'menikah' adalah yang terpanjang. Padahal, aku tak pernah pacaran. Lucu sekali. Membahas tentang pasangan, tapi tak pernah merasakan punya pasangan. Hanya sebatas berandai-andai tentang masa depan.

Aku pernah menemukan blog (atau wordpress, aku lupa) berisi kisah si penulis, seperti kumpulan diary yang dia posting kedalam blognya. Tapi tulisannya bagus, bukan yang seperti ini. Aku tidak tahu apakah ada juga blog yang isinya melulu curhatan picisan seperti ini. Entahlah, sepertinya blog ini memang sangat tidak menarik.

Oh, ada tambahan. Mengenai kegelisahanku. Ini tentang Tugas Akhir (skripsi). Sebenarnya masih proposal, tapi ini benar-benar membingungkan. Seminggu terakhir aku terkena asam lambung yang membuat moodku semakin memburuk dalam mengerjakan proposal. Ini menyebalkan. Aku mahasiswa akhir yang ingin cepat-cepat lulus, tapi sesulit ini rupanya.

Ada yang sama sepertiku? Kalau ada, ayo kita berjuang mengakhiri status mahasiswa ini sebagai penerima nilai sidang yang baik dengan pakaian toga yang membanggakan orang tua. Ayo berjuang! :)

Continue reading Tentang Blog Ini

Novel

Pernahkah novel menjadi alasanmu hobi membaca?

Aku pernah.

Dulu, jaman putih biru dan putih abu-abu, aku suka membaca novel. Setiap kali pergi ke mall, gramedia selalu menjadi tempat yang tak pernah tak ku kunjungi. Keluar dari gramedia, tanganku memang tak pernah kosong. Setidaknya, ada satu buku yang kubawa pulang.

Novel-novelku tersusun rapi diatas meja. Walau pada kenyataannya, ada cukup banyak yang hilang entah kemana.

Soal genre? Aku tak pernah punya genre favorit. Dari cerita romansa, humor garing, cerita dari blog, sampai kisah konyol nan dodol pun pernah ku beli.

Aku tak pernah tau novel yang sedang laris, atau yang terbaru. Aku tak pernah mengikuti perkembangan terbaru soal novel-novel yang ada di toko buku itu, atau buku yang sedang digemari anak-anak muda pada jamannya. Yang ku tahu hanya datang kesana, baca sinopsis, membayangkan kisahnya, lalu membeli. Alasan lain juga karena rekomendasi dari orang yang menemaniku berburu novel saat itu.

Menyenangkan? Tentu saja. Aku suka sekali membaca (cerita fiksi seringnya). Novel itu temanku kala libur dan bosan.

Tapi itu dulu.

Semenjak kuliah, novel sudah menjadi masa lalu. Kalau ditanya, "Kapan terakhir kali baca novel?", jawabannya, mungkin tahun lalu. Tapi novel yang kubaca itu tidak membekas. Hanya seperti angin lalu.  Novel yang ku ingat hanya Dilan, yang kubaca beberapa tahun yang lalu.

Setelah sekian lama, novel sudah bukan bagian dari kesenanganku lagi.

Kemudian, banyak pertanyaan muncul dikepalaku.
"Mengapa?"
"Bagaimana bisa?"

Berbagai spekulasi dalam kepalaku muncul, seperti,
"Apa kemalasanku sudah akut sampai-sampai menyerang hobi?"

Lalu, nanti, apa membaca novel bisa menjadi hobiku lagi?
Continue reading Novel

Confusion on May 21, 2019

When i said that i have a problem with mental health, my mom said "no, you don't!"
When i said that i am sick, my mom said "no! You are not sick."
When i said that i need to go to the psychologist, my mom said, "why? You don't need it. You're healthy."
When i told to my mom about my friend who got mental illness and she got depressed just like me, she said, "why are you hurting me? You're not sick! Stop talking about that. You make me really sad, i feel that i failed to be a good parent for you."
And suddenly i stopped.

But, somehow, my mom said, "if you want to go to the psychologist, i allowing you. Maybe you need it. Just in case you can be more confident and be thankful for your life."
It was surprising to me. But, somehow, i was thinking that i'm too much. So, i said to her, "i don't need it. I can fix myself alone."
My mom was confused, but she never force me.

But, a few days ago, i said to my mom, "i can't stand it anymore. I really can't fix it. This is so hard. I really need a psychologist."
But, unexpectedly, my mom answered, "please be mature, my daughter. Don't hurt yourself. Just try to think about your future and your family. We need you to be healthy. Don't think too much, it will hurt you. Stop thinking about going to a psychologist or whatever. You're strong. You don't need to go there yet. You can fix it by yourself."
After that, i was thinking like what my mom said.

But suddenly, i just watched a video about so many people have problems, many people can have mental illness. It said, "if you have mental illness, and you can't stand it, and make you hurt yourself even other people, please go to a psychologist. It's important for you and people around you."

Now i'm thinking.
I have ever hurted and thought to hurt myself because of (i think) my depression. But now, for these days, i never do that again. At least, rarely. So, should i go to the psychologist when i feel that i don't need it?
Continue reading Confusion on May 21, 2019

"gumul"

"Ketika watak dosa mengancam untuk menguras semangat hidupmu, pandanglah sumber keselamatanmu, Yesus Kristus, dan kiranya kamu dikuatkan oleh kuasa roh-Nya." 
-santapan rohani, 19 juni 2019-

Akhir-akhir ini, semenjak pulang dari PMKM, aku merasa kembali jadi 'aku yang dulu'. Walaupun gak separah dulu, tapi kebiasaan buruk yang suka berpikiran negatif sampai jadi takut bahkan menyalahkan diri sendiri itu rasanya kembali lagi. Parahnya sekarang, hal-hal itu harus aku hadapi, tapi aku gak tau gimana cara ngadepinnya.

Aku sering teringat 1 tahun yang lalu, waktu aku pikir aku sudah berubah menjadi pribadi yang lebih positif. Aku masih ingat caranya, dan aku gak nyangka hal itu berhasil. Aku jadi lebih nyaman dalam menghadapi hidup, lebih enjoy, dan yang terpenting adalah, aku bisa mengucap syukur sama Tuhan untuk semua yang Dia kasi ke aku. Bahagia, tangis, takut, dan semua orang yang Dia hadirkan dalam hidup aku, pokoknya semuuuaaanyaa. Aku mengucap syukur tulus dari hati aku yang paling dalam. Aku gatau gimana mendeskripsikan betapa bahagianya aku ketika bersyukur waktu itu.

Akhir-akhir ini aku sering mencoba untuk mengingat-ingat kembali bagaimana hal itu bisa aku lakukan. Tapi gak tau kenapa, keras kepalaku muncul lagi. Aku tau, tapi aku gak mau. Aku selalu bergumul dengan diri sendiri. Aku selalu bilang, "Tuhan, bantu aku", tapi pada kenyataannya, aku gak kasi masalah aku ke Tuhan. Semua masalah aku peluk sendiri sambil bilang, "Tuhan tolong aku", tanpa berusaha melakukan sesuatu.

Aku semakin benci sama diri sendiri ketika orang-orang bilang masalahku itu gak seberapa. Ya, aku tau. Aku tau diluar sana ada begitu banyak orang yang punya masalah lebih berat dari pada aku. Tapi aku gak tau gimana caranya berubah.

Ditengah-tengah pergumulan, Tuhan mengingatkan aku lewat cara-cara-Nya. Ada waktu dimana aku sudah merasa kecewa. Tanpa menyalahkan apa-apa ke Tuhan, aku berhenti berdoa. Aku gak marah, cuma kecewa dan berhenti berharap. Tapi beberapa minggu setelah itu, di gereja, Tuhan seperti menyatakan diriNya. Aku gak ngerti kenapa, tapi waktu khotbah, aku ngerasa Tuhan kayak ngebuka hati dan pikiran aku. Seolah-olah Dia bilang, "Aku selalu ada, lho. Kenapa kamu meragukan Aku? Aku ada. Aku tetap Allah, bagaimanapun keaadaanmu. Jangan berpaling dari-Ku". Disitu aku merasa tersentuh. Lalu aku jadi emosional setelah khotbah itu. Aku nangis di pujian setelah khotbah yang judulnya 'Kau tetap Allah'. Padahal lagu itu udah sering kudengar. Tapi entah kenapa lagu itu jadi lebih bermakna. Setelah itu, aku kembali berdoa lagi. Tapi sifat buruk ini masih ada. Lalu, ditengah keterpurukan ini, Tuhan mengingatkan aku untuk saat teduh setiap pagi.

Aku gak pernah saat teduh pagi sebelumnya. Waktu SMA, aku cuma baca alkitab, itupun sekedar baca. Lalu aku berhenti karena malas. Sekarang, aku mulai nyoba saat teduh. Aku sadar, aku butuh asupan dari Dia. Hidup aku gak cuma tentang minta-minta, mohon-mohon sama Dia, lalu bersyukur sama semua yang udah Dia kasi. Tapi aku juga harus dapat Firman-Nya. Dan seharusnya memang lebih baik kalau aku dapat santapan rohani setiap hari, bukan cuma setiap hari minggu (itupun kalo fokus dengerin khotbah atau kalau aku emang pergi ke gereja).

Sampai sekarang aku masih gatau harus gimana. Kadang-kadang aku mikir kalo aku butuh ke psikolog, tapi aku takut sekali. Apalagi ketika aku ingat kalau masalah aku ini gak seberapa. Aku jadi mikir kalo aku emang belum butuh kesana. Aku juga takut gak berhasil.

Aku benci aku yang penakut.

Tapi aku percaya, Dia pasti tunjukan jalan. Aku gak pernah tau kapan dan gimana, tapi Dia gak pernah biarkan aku jatuh tergeletak selamanya.

"Saat kita jatuh terpuruk, ada tangan Tuhan yg terulur. Pilihannya ada di kita, menyambut uluran tanganNya dan berusaha bangkit atau mengabaikanNya".

Continue reading "gumul"