Beresin Dulu Hidupmu (Unfu*k Yourself)


Sejujurnya, buku self-development adalah buku yang tidak menarik buatku. Tidak seperti buku novel fiksi yang senang kubaca semasa sekolah, beberapa buku self-development yang kubaca bahkan tak sampai di halaman sepuluh. Terlebih lagi, aku sudah sangat lama tidak membaca buku, sehingga memerlukan niat yang besar untuk menyelesaikan buku ini. Sampai akhirnya, buku ini adalah buku self-development pertama yang kubaca hingga habis. 

Buku Beresin Dulu Hidupmu ku dapat bulan Desember 2024, saat acara tukar kado di kantor. Dari halaman awal, buku ini memang diperuntukkan untuk orang-orang yang penuh pikiran negatif dan keragu-raguan sepertiku. Cukup buatku penasaran, "memangnya diriku terlihat seperlu itu untuk dibereskan?"

Penulis sendiri memberikan 7 kalimat asertif pada setiap babnya:
  • Aku Bersedia (I'm Willing)
  • Aku Telah Diprogram Untuk Menang (I am Wired to Win)
  • Aku Bisa (I Got This)
  • Aku Merangkul Ketidakpastian (I Embrace The Uncertainity)
  • Aku Bukanlah Pikiranku, Aku adalah Tidakanku (I am not My Thoughts, I Am What I Do)
  • Aku Berteguh (I am Relentless)
  • Aku Tidak Mengharapkan Apapun dan Menerima Konsekuensinya (I Expect Nothing and Accept Everything)
Pada hampir seluruh bab, penulis acap kali menyatakan bahwa pikiran adalah pengaruh paling besar dalam hidup. Meskipun faktanya, perubahan tidak berhenti hanya di kalimat positif saja. Tentu perlu ada dorongan yang kuat dari dalam diri masing-masing untuk mulai bergerak dan melakukan sesuatu.

Penulis selalu menyertakan cerita yang membawa pembacanya masuk ke dalam tiap kalimat asertif yang ia buat. Sehingga rasanya, tulisannya berhasil mempengaruhi pikiran. Seketika perasaan takut dan ragu itu tertutup sama kalimat-kalimat asertif positif yang ku baca, karena terasa nyata. 

Setelah memberikan banyak pengaruh untuk mengubah pola pikir dan cara pandang, penulis tak lupa mengingatkan bahwa realitas tak selalu sesuai ekspektasi. Karena harapan yang tak tercapai tidak akan merubah apapun pada realitas. Rencanakan untuk keberhasilan, belajar dari kegagalan. 

Bab 9 (paling akhir), awalnya ku pikir hanya berisi rangkuman semata. Ternyata, isinya juga perintah!

"AYO BANGUN!"
"TIDAK ADA ALASAN!!"
"LAKUKAN SEKARANG JUGA!!!"

Iya..iya.. Sebentar lagi.. Hadehh
Continue reading Beresin Dulu Hidupmu (Unfu*k Yourself)

Jamais Vu

Aku duduk di sisi paling kanan ruangan. Dari sini, aku bisa melihat semua orang di ruang makan. Orang-orang duduk berkelompok. Kebanyakan, duduk berdekatan dengan teman sefrekuensinya.

Suasana ini seperti bertahun-tahun lalu, ketika aku ada di tengah-tengah lingkaran ini sebagai murid. Sekarang, aku kembali lagi, sebagai pegawai.

Aku merasa asing, berbeda, dan tidak percaya diri. 

“Del, kamu lihat ga tadi….” seseorang membuyarkan lamunanku. Aku mengalihkan perhatianku padanya. Tersenyum dan ikut larut dalam obrolannya.

Sebetulnya aku lebih banyak mendengarkan dan merespons ceritanya, sih.

Selesai makan dan ngobrol-ngobrol, kami kembali ke kamar masing-masing, bersiap-siap untuk melanjutkan acara retreat hari itu. Aku merogoh kantung celanaku ketika teman sekamarku dari kejauhan menghampiri, “ayuk kita balik ke kamar”, memastikan kalau kunci kamar masih ku simpan dengan baik.

Di jalan menuju kamar, ingatanku kembali pada masa remajaku.

Perasaan asing, berbeda, dan tidak percaya diri itu masih ada.

Tapi, sekarang berbeda.

Sudah tidak ada rasa benci pada situasi seperti ini.

Sudah tidak sebaper dulu.

Sudah bisa berbaur dan biasa-biasa saja kalau sendirian.

Sudah tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil yang mungkin akan membuatku tersinggung.

Hal-hal buruk itu masih ada.

Tapi, setelah 10 tahun berlalu, sudah tidak sekelam dulu, ya? Rasanya jauh lebih baik.

Continue reading Jamais Vu

Healing : Pengalaman Baru


“Ma, della kemarin jadi WL.”

“Apa, tuh?”

“Worship leader, pemimpin pujian. Tapi jadi pemimpin pujian untuk anak-anak.”

“Wahh, baguslaah. Tercapai, ya, keinginan Della. Kan, Della pernah nanya-nanya Yabes (nama panggilan temenku) tentang guru sekolah minggu di gereja situ.”

 

Seketika kilas balik ke sembilan tahun yang lalu, saat aku menghubungi temanku (mamanya seorang guru sekolah minggu), menanyakan soal pelayanan mengajar anak-anak di gereja itu. 

"Langsung tanya mamaku, lah."

Jawabannya bukan penolakan, memang. Hanya saja membuatku agak tersinggung. Lalu, ketidak-pede-an membuatku dengan mudah mengurungkan niat. ‘Yah, mungkin saat itu bukan waktunya Tuhan’, pikirku sekarang ini.

Sembilan tahun kemudian, aku ada dalam sebuah pelayanan gereja. Mengajari anak-anak pelajaran umum di Rumah Belajar ke desa-desa. Tanggal 23 Mei kemarin adalah kali kedua aku ikut pelayanan ke Rumah Belajar.

Bukan kesengajaan. Tapi pelan-pelan Tuhan antarkan aku ke situasi yang pernah kuinginkan dulu. Di mulai saat aku 'dijaring' salah satu hamba Tuhan untuk ikut kelompok rayon (aku sendiri pernah ngomong dalam hati, 'pengen punya kelompok kecil gereja, deh'), lalu ditawarkan untuk ikut pelayanan ke Rumah Belajar. 

“Bersenang-senang, lah, ya kamu di rumah belajar nanti.” Kata konselor gereja yang baru-baru ini ku temui beberapa kali.

Tapi, benar katanya; aku bersenang-senang. Walaupun sempat mabuk darat sampai muntah, kehilangan mood untuk makan siang karena perut yang rasanya tak nyaman, pelayanan kemarin terasa seperti ‘healing’ di tengah pekerjaan yang membuat mumet kepala.

Setelah pengalaman ini, rasanya, aku harus membiarkan kegiatan ini menjadi ‘healing’, kan, ya?








 

Continue reading Healing : Pengalaman Baru

Cuma Kegeeran

Ku kira malam itu, malam yang membahagiakan buat kita
Duduk berdampingan di lantai dua,
Di sebuah cafe yang sedang hits katanya,
Menghadap jalan raya
Kamu dengan segelas con hielo favoritmu,
Dan aku dengan segelas red velvet yang ku pesan karna penasaran

Malam itu, kita saling bertukar cerita
Aku senang bisa mendengar ceritamu
Menatap wajahmu yang antusias ketika bercerita
Walaupun aku malu, karena aku tak cukup pandai menanggapi obrolanmu
Sedangkan ceritaku, selalu ditanggapi dengan baik sama kamu
Kita beda ya,
Aku gak sebagus itu ngobrolnya,
Sedangkan kamu bagus banget ngobrolnya

Seminggu setelah itu,
Ku kira kamu akan mengajakku ngobrol lagi seperti malam itu
Tapi mungkin aku kegeeran ya?
Mungkin cuma aku yang bahagia bisa menghabiskan waktu berdua sama kamu
Mungkin cuma aku yang menunggu-nunggu kapan hari itu ada lagi
Atau mungkin.. cuma aku ya.. yang paling sayang sama kamu?

Continue reading Cuma Kegeeran

Kelabu pertama

Ben memakai kaosnya sendiri kali ini. Semalam, Ben sudah berjanji pada mamak, di umurnya yang ke lima sejak hari itu, Ben akan belajar memakai bajunya sendiri.

"Wah, Ben pintar sekali." kepala Ben menoleh ke sumber suara. Mamak masuk dari balik pintu kamar Ben, memeluknya seraya mengucap, "trimakasih, sayang", lalu mencium pipi Ben, yang dibalas cium oleh Ben. 

"Sekarang, Ben cium bapak ya?" masih dengan senyuman yang mengembang, Ben mengangguk, mengikuti mamak yang menggandeng tangannya menuju tempat bapak berbaring. 

Biasanya, Ben selalu mencium pipi bapak sebelum tidur. Namun yang Ben lihat kala itu, bapak sudah tertidur duluan. 'mungkin bapak sudah sangat ngantuk', pikir Ben. 

Ben mengecup pipi bapak seperti biasa. Tapi kali itu, tidak seperti biasanya, pipi hangat bapak rasanya dingin. Ben bermaksud bertanya, tapi mamak sudah menarik tangannya duluan. 

"Ben, tolong ambil dan pakai sepatu sendiri, ya? Sekalian ambilkan jaket punya Ben dan punya mamak, bisa kan?" 

---

Ben berjalan dengan hati-hati menghindari genangan air. Sambil digandeng mamak, Ben berjalan menuju orang-orang yang mengerumuni tempat bapak berbaring.

Tempat bapak berbaring yang sudah tertutup, perlahan dimasukan kedalam lubang besar ke dalam tanah. Beberapa orang mulai mengais tanah dan menumpukkannya keatas tempat bapak berbaring. Melihat itu, Ben panik, "Mak, kenapa bapak dilempar tanah?"

Ben menoleh, dilihatnya mamak yg sudah menangis begitu deras. Mamak tidak menjawab apa-apa selain memeluk Ben. Ben bingung, panik, orang-orang disekelilingnya juga menangis.

"Mamak kenapa nangis? Bapak kenapa, mak? Kenapa mereka ndak berhenti ngelempar tanah?" Mamak semakin terisak sembari memeluk Ben lebih erat. Ben belum mengerti, tapi rasanya, hatinya kelabu.

Langit menurunkan hujan sedikit demi sedikit, bersamaan dengan Ben yang berteriak kencang sambil menangis di pelukan ibunya. Ia tidak begitu paham, mengapa sehari setelah ulang tahunnya, ia merasakan patah hati terhebat, ketika melihat ibunya sedih dengan teramat, dan bapak yg dilempar-lempar dengan tanah tanpa ada seorangpun yang menghentikannya.

Continue reading Kelabu pertama