26 Maret 2020

Hanya bercanda. Iya kan?
Kukira kau hanya bercanda
Bermain-main dengan kata manis
Tapi sebenarnya kau tak serius

Adakah terbesit rasa jengkel ketika kau tahu aku bodoh?
Adakah terbesit rasa muak ketika aku selalu mengeluh?
Adakah terbesit rasa tak suka ketika aku tak pandai menanggapi dengan baik obrolanmu?
Aku sudah jujur berkali-kali pada diriku sendiri; aku sudah jatuh
Semudah itu

Lalu, apa yang kau lakukan sekarang?
Mempermainkan rasa sialan ini dengan semena-mena?

Sudah ku bilang, aku tak mau memulai
Lalu sekarang, aku jadi bodoh

Sudah ku bilang, kan, rasa sialan ini buat aku bodoh?

Logika sudah bilang berhenti, sungguh

Ah, bangsat!
Continue reading 26 Maret 2020

00:00 (Zero O'clock) - BTS (English)

This song is presented to you who have a heavy day. Whatever you face today, don't forget that you'll have the next day. After "zero o'clock", everything is reset and new day is ready to start again. Always hope and pray that you'll have the new strength to pass the new day..

Matthew 6 : 34 (NLT)
So don't worry about tomorrow, for tomorrow will bring its own worries. Today's trouble is enough for today.

You know those days
Those days where you're sad for no reason
Those days where your body is heavy
And it looks like everyone else except you is busy and fierce
My feet won't set off, though it seems like I'm already too late
I'm hateful of the world

Here and there are click-clacking speed bumps
My heart grows crumpled and my words lessen
Why the hell? I ran so hard
Oh, why to me

Come home and lie in bed
Thinking if it was my fault?
Dizzy night, looking at the clock
Soon it will be midnight

Will something be different?
It won't be something like that
But this day will be over
When the minute and second hands overlap
The world holds its breath for a little while
Zero o'clock

And you gonna be happy
Like that snow that just settle down
Let's breathe, like the first time
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock

The beat slips away little by little
I can't put on the easy face
I keep forgetting familiar lyrics
There's nothing going my way
Yes, it's all in the past
Even talking to myself, it's not easy
Is it my fault? Is it my wrong?
Only my echo comes back with no answer

Put my hands together to pray
Hoping that tomorrow I'll laugh more, for me
It'll be better, for me
When this song ends
My new song begins
Hoping that I'll be a little happier

And you gonna be happy
I hold my breath for a very brief moment
And give myself a pat today, as well
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock

Produce by Pdogg
Written by Pdogg, RM, Jessie Lauryn Foutz, Antonina Armato
Continue reading 00:00 (Zero O'clock) - BTS (English)

Jatuh.

Sudah ku bilang kan, aku mudah?
Bahkan sekarang, rasanya, aku sudah jatuh.

Menyangkal? Sering.
Aku sudah pernah jatuh beberapa kali
Dan selalu ku sangkal berkali-kali

Aku takut.
Tentu saja.

Hanya kali ini, aku mencoba untuk tidak menyangkal
Tapi masih dengan pikiran negatif yang terus berkeliaran

Dan jika memang ternyata dia tidak
Dan jika memang ternyata dia berhenti
Dan jika memang akhirnya hanya aku yang jatuh
Jujur, aku tak mau
Tapi, bukankah aku harus siap?
Continue reading Jatuh.

Egois.

Bukankah itu egois?

Didepan orang lain, saya selalu menjadi orang yang paling banyak cerita.
Dihadapan orang lain, saya selalu ingin didengar.
Konyolnya, saya pernah mengatakan kalau saya ini pendengar yang baik.
Nyatanya, itu hanya pengakuan dari pemikiran saya yang menggelikan.
Nyatanya, saya tidak mampu membuat orang lain betah menjadikan saya tempat bercerita.
Nyatanya, saya masih sering datang pada orang lain hanya untuk didengarkan.

Miris.
Saya begitu miris, karena pernah percaya diri tentang hal ini.

Bukankah itu egois?
Continue reading Egois.

Pelabelan

Waktu itu saya duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar dan ada suatu peringatan besar. Sekolah pun memutuskan untuk mengadakan lomba demi memperingati hari besar itu. Salah satu lombanya yaitu menyanyi. Masing-masing kelas harus memberikan perwakilan satu laki-laki dan satu perempuan untuk bernyanyi solo. Demi menyukseskan acara itu, wali kelas mengajak para murid untuk berdiskusi mengenai siapa yang harus menjadi perwakilan kelas kami.

Beberapa murid dengan semangat menunjuk seseorang untuk menjadi perwakilan solo perempuan dari kelas kami. Biarkan saya menggunakan 'V' sebagai inisial namanya. Gadis itu adalah gadis pintar dan cantik, kulitnya putih karena keturunan Tionghua, sering kali ranking 1 di kelas, beberapa kali tampil di atas panggung aula sekolah untuk bernyanyi. Sedangkan perwakilan laki-laki, para murid bersemangat menunjuk salah seorang teman saya yang juga pintar. Perawakannya agak rendah meskipun dia ganteng dan putih karena keturunan Tionghua juga. Cukup menjadi perhatian di kelas karena tingkah lakunya yang kadang kala konyol sampai membuat orang lain tergelak. Inisialnya, 'G'. G langsung menolak ketika ditunjuk. Meskipun begitu, wali kelas dan teman-teman saat itu tetap membujuknya.

Bu guru sempat bertanya, siapa yang bersedia mewakili kelas untuk lomba ini. Seorang anak laki-laki pun sempat mengangkat tangannya. Anak ini memiliki tubuh yang sedikit berisi dan warna kulitnya sawo matang. Dia bukan anak pintar dan ranking seperti V dan G, bahkan ia sering kali berada di urutan terakhir untuk ranking di kelas. Tapi yang saya tahu, dia punya suara yang indah. Saya beberapa kali mendengarnya bersenandung di kelas. Saya rasa menyanyi adalah hobinya. Saya akan menyebutnya, 'C'.

Sayangnya, pengajuannya saat itu tidak terlalu ditanggapi oleh bu guru. Sang guru hanya memperhatikan teman-teman yang hanya terus membujuk G untuk tampil. Yang lainnya seolah tak peduli, termasuk saya yang sama sekali tak ikut bersuara dari awal diskusi. Bu guru dan teman-teman pun tetap memaksa G untuk mewakili kelas. Lalu G menurut dengan terpaksa.

Saya tidak mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi C saat tahu bahwa dia tidak dipilih. Tapi sekilas, saya sempat melihat raut kecewa yang memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum dan mengangguk kala bu guru bilang, "Nanti dulu, ya. Kamu lain kali saja.". Kemudian saya ikut merenggut sedih dan sedikit berharap agar C yang seharusnya tampil.

Di hari H, V sudah maju ke dekat panggung untuk bersiap-siap. Sayangnya, G tiba-tiba menolak untuk tampil. Sang wali kelas kalang kabut. Memaksa G sudah tak bisa ia lakukan lagi karena G sama sekali tak mau. G dengan kekeuh menolak. Kala itu, V sudah selesai tampil dan yang harus tampil selanjutnya adalah G. Dalam kondisi genting itu, sang wali kelas akhirnya menarik C. Memasangkannya dasi kupu-kupu dan mendorongnya naik ke atas panggung. Kemudian kami, untuk pertama kalinya mendengarkan suara merdunya di atas panggung.

Setelah sekian lama hal itu terjadi, saya jadi berpikir, apa mereka tidak ada latihan? Mengapa G bisa hampir tampil kalau ternyata C yang sebenarnya lebih pantas mewakili kelas? Mengapa saat itu rasanya semua yang ditunjuk mewakili kelas hanya mereka yang pintar saja? Mengapa saat pemilihan perwakilan lomba menyanyi, tidak menyuruh mereka untuk membuktikan suaranya?

Kejadian tak menyenangkan semacam itu sering saya lihat dialami oleh C, karena saya selalu 1 kelas dengannya. Saya juga ingat waktu kelas 3, C pernah dihukum, disuruh buka baju, dan dadanya di gambar-gambar oleh bu guru. Melihatnya menangis, membuat saya jadi tak tega. Terakhir kali melihat C adalah waktu kami kelas 5. Ketika ia disuruh kedepan kelas untuk menyampaikan kata-kata terakhir kepada teman-teman dan bu guru, karena saat itu ia dinyatakan tidak naik kelas.

Setelah belasan tahun berlalu, kejadian itu masih berada di tumpukan ingatan-ingatan dalam kepala, yang entah mengapa ceritanya secara garis besar tak pernah saya lupakan. Kalau saja saya bertemu dengannya secara tak sengaja dan kami saling mengenal, itu pasti akan menjadi hal yang mengejutkan. Apalagi jika ada waktu untuk mengobrol beberapa waktu, mungkin saya akan menceritakan cerita itu lagi, kemudian memuji suara indahnya yang belum sempat saya katakan dulu. Sekalian meminta izin dan maaf, karena ceritanya diunggah disini. 

Tapi sebenarnya, saya juga tak yakin hal itu terjadi. 
Memuji suaranya? 
Hei, bukankah saya pemalu? Bagaimana saya bisa mengatakan hal itu terang-terangan padanya?
Continue reading Pelabelan