Cuma Kegeeran

Ku kira malam itu, malam yang membahagiakan buat kita
Duduk berdampingan di lantai dua,
Di sebuah cafe yang sedang hits katanya,
Menghadap jalan raya
Kamu dengan segelas con hielo favoritmu,
Dan aku dengan segelas red velvet yang ku pesan karna penasaran

Malam itu, kita saling bertukar cerita
Aku senang bisa mendengar ceritamu
Menatap wajahmu yang antusias ketika bercerita
Walaupun aku malu, karena aku tak cukup pandai menanggapi obrolanmu
Sedangkan ceritaku, selalu ditanggapi dengan baik sama kamu
Kita beda ya,
Aku gak sebagus itu ngobrolnya,
Sedangkan kamu bagus banget ngobrolnya

Seminggu setelah itu,
Ku kira kamu akan mengajakku ngobrol lagi seperti malam itu
Tapi mungkin aku kegeeran ya?
Mungkin cuma aku yang bahagia bisa menghabiskan waktu berdua sama kamu
Mungkin cuma aku yang menunggu-nunggu kapan hari itu ada lagi
Atau mungkin.. cuma aku ya.. yang paling sayang sama kamu?

Continue reading Cuma Kegeeran

Kelabu pertama

Ben memakai kaosnya sendiri kali ini. Semalam, Ben sudah berjanji pada mamak, di umurnya yang ke lima sejak hari itu, Ben akan belajar memakai bajunya sendiri.

"Wah, Ben pintar sekali." kepala Ben menoleh ke sumber suara. Mamak masuk dari balik pintu kamar Ben, memeluknya seraya mengucap, "trimakasih, sayang", lalu mencium pipi Ben, yang dibalas cium oleh Ben. 

"Sekarang, Ben cium bapak ya?" masih dengan senyuman yang mengembang, Ben mengangguk, mengikuti mamak yang menggandeng tangannya menuju tempat bapak berbaring. 

Biasanya, Ben selalu mencium pipi bapak sebelum tidur. Namun yang Ben lihat kala itu, bapak sudah tertidur duluan. 'mungkin bapak sudah sangat ngantuk', pikir Ben. 

Ben mengecup pipi bapak seperti biasa. Tapi kali itu, tidak seperti biasanya, pipi hangat bapak rasanya dingin. Ben bermaksud bertanya, tapi mamak sudah menarik tangannya duluan. 

"Ben, tolong ambil dan pakai sepatu sendiri, ya? Sekalian ambilkan jaket punya Ben dan punya mamak, bisa kan?" 

---

Ben berjalan dengan hati-hati menghindari genangan air. Sambil digandeng mamak, Ben berjalan menuju orang-orang yang mengerumuni tempat bapak berbaring.

Tempat bapak berbaring yang sudah tertutup, perlahan dimasukan kedalam lubang besar ke dalam tanah. Beberapa orang mulai mengais tanah dan menumpukkannya keatas tempat bapak berbaring. Melihat itu, Ben panik, "Mak, kenapa bapak dilempar tanah?"

Ben menoleh, dilihatnya mamak yg sudah menangis begitu deras. Mamak tidak menjawab apa-apa selain memeluk Ben. Ben bingung, panik, orang-orang disekelilingnya juga menangis.

"Mamak kenapa nangis? Bapak kenapa, mak? Kenapa mereka ndak berhenti ngelempar tanah?" Mamak semakin terisak sembari memeluk Ben lebih erat. Ben belum mengerti, tapi rasanya, hatinya kelabu.

Langit menurunkan hujan sedikit demi sedikit, bersamaan dengan Ben yang berteriak kencang sambil menangis di pelukan ibunya. Ia tidak begitu paham, mengapa sehari setelah ulang tahunnya, ia merasakan patah hati terhebat, ketika melihat ibunya sedih dengan teramat, dan bapak yg dilempar-lempar dengan tanah tanpa ada seorangpun yang menghentikannya.

Continue reading Kelabu pertama

If

“Enak ya, jadi kamu.” katamu sambil memakan pizza yang baru saja di pesan Pak Mulyo, setelah kita menghabiskan bekal makan siang ku.

Kamu membersihkan mulutmu dengan baju doraemon kebesaranmu, setelah aku membersihkan mulut dan tanganku dengan tisu yang Pak Mulyo sodorkan padaku. Bibirmu menyunggingkan senyum, ketika aku menyodorkan tisu padamu. Lalu kamu dengan cepat membersihkan mulut dan tanganmu dari sisa-sisa saus pizza.

Tak lama setelah itu, mamaku datang dengan mobil putihnya. Mama tidak turun dari kursi penumpang, hanya menurunkan kaca mobil, kemudian membalas sapaan sopan darimu dengan senyuman. Pak Mulyo segera membukakanku pintu agar aku dapat duduk di sebelah mama, lalu menutup pintu dan segera duduk disamping supir. Kamu berdiri sambil merapikan rambutmu yang selalu di ikat satu, beralih ke rok biru tua mu yang warnanya sudah pudar. Segera melontarkan kalimat, “hati-hati dijalan” sambil melambaikan tangan ketika mobil melaju pelan.

Dari balik kaca mobil, aku masih terus memandang kearahmu. Melihat senyummu yang lebar ketika ayahmu datang untuk mengajakmu bermain sambil membawa bola plastik yang kita gunakan untuk bermain kejar-kejaran kemarin. Kamu menyambut bola itu, lalu berusaha mengejar ayahmu yang berlari sambil tertawa menjauhimu.

 “Jangan lupa ya, Aldo” sesaat setelah kamu hilang dari pandangan, mama mengatakan ini.

“Kamu ada les matematika dan sains sebentar lagi. Trus malamnya, les bahasa inggris. Jadwal kamu udah mama atur. Les bahasa nya malam supaya kamu gak terlalu stres". Kalimat berulang itu sudah sering kudengar setiap mama menemukanku bertemu denganmu. Lebih tepatnya setelah dia tau kalau aku pernah bolos les hanya demi bermain denganmu. 

"Trus rencananya mama juga mau tambahin les musik di celah waktu olahraga mu setiap Sabtu dan Minggu. Mama rasa kamu juga harus mulai sering-sering ikut papa dan mama ke rumah sakit. Yang itu juga udah mama masukan ke jadwal mu. Kamu tau kan, menjadi kepala dokter itu ga mudah. Apalagi kamu udah kelas 7. Jadi...”

Omongan mama sudah tak terdengar lagi ketika tiba-tiba sebuah kalimatmu tadi melintas dalam pikiranku, yang perlahan mulai terngiang-ngiang dan membuatku larut.

“Enak ya, jadi kamu.”

 

 

Continue reading If

26 Maret 2020

Hanya bercanda. Iya kan?
Kukira kau hanya bercanda
Bermain-main dengan kata manis
Tapi sebenarnya kau tak serius

Adakah terbesit rasa jengkel ketika kau tahu aku bodoh?
Adakah terbesit rasa muak ketika aku selalu mengeluh?
Adakah terbesit rasa tak suka ketika aku tak pandai menanggapi dengan baik obrolanmu?
Aku sudah jujur berkali-kali pada diriku sendiri; aku sudah jatuh
Semudah itu

Lalu, apa yang kau lakukan sekarang?
Mempermainkan rasa sialan ini dengan semena-mena?

Sudah ku bilang, aku tak mau memulai
Lalu sekarang, aku jadi bodoh

Sudah ku bilang, kan, rasa sialan ini buat aku bodoh?

Logika sudah bilang berhenti, sungguh

Ah, bangsat!
Continue reading 26 Maret 2020

00:00 (Zero O'clock) - BTS (English)

This song is presented to you who have a heavy day. Whatever you face today, don't forget that you'll have the next day. After "zero o'clock", everything is reset and new day is ready to start again. Always hope and pray that you'll have the new strength to pass the new day..

Matthew 6 : 34 (NLT)
So don't worry about tomorrow, for tomorrow will bring its own worries. Today's trouble is enough for today.

You know those days
Those days where you're sad for no reason
Those days where your body is heavy
And it looks like everyone else except you is busy and fierce
My feet won't set off, though it seems like I'm already too late
I'm hateful of the world

Here and there are click-clacking speed bumps
My heart grows crumpled and my words lessen
Why the hell? I ran so hard
Oh, why to me

Come home and lie in bed
Thinking if it was my fault?
Dizzy night, looking at the clock
Soon it will be midnight

Will something be different?
It won't be something like that
But this day will be over
When the minute and second hands overlap
The world holds its breath for a little while
Zero o'clock

And you gonna be happy
Like that snow that just settle down
Let's breathe, like the first time
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock

The beat slips away little by little
I can't put on the easy face
I keep forgetting familiar lyrics
There's nothing going my way
Yes, it's all in the past
Even talking to myself, it's not easy
Is it my fault? Is it my wrong?
Only my echo comes back with no answer

Put my hands together to pray
Hoping that tomorrow I'll laugh more, for me
It'll be better, for me
When this song ends
My new song begins
Hoping that I'll be a little happier

And you gonna be happy
I hold my breath for a very brief moment
And give myself a pat today, as well
And you gonna be happy
Turn this all around
When everything is new, zero o'clock

Produce by Pdogg
Written by Pdogg, RM, Jessie Lauryn Foutz, Antonina Armato
Continue reading 00:00 (Zero O'clock) - BTS (English)