Senin, 9 Desember 2019

Aneh rasanya waktu beliau bilang bahwa semuanya berawal dari pikiran. Karena setiap kali mendapat situasi itu, rasanya jantungku berdetak sangat cepat tanpa otak sempat menangkap apa yang terjadi.

Dan yang lebih buruk adalah, ketika aku sudah lupa bagaimana rasanya cemas yang biasa kualami setelah cemas berlebihan yang kurasakan akhir-akhir ini.

Cemas berlebihan? 
Hei, bukankah ini sudah sembuh?

Continue reading Senin, 9 Desember 2019

Pura-pura Bahagia

Hari ini pikiran mendadak memunculkan kata-kata yang pernah terekam dalam memori, 
"Ternyata pura-pura bahagia itu melelahkan."

Tapi, bukankah lebih baik kata-kata itu diubah menjadi,
"Ternyata pura-pura bahagia itu cukup menyenangkan.", huh?

Lalu, kau akan bertanya, 
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu?"

Maka, aku juga akan bertanya, 
"Bagaimana caramu berpura-pura bahagia?"

Continue reading Pura-pura Bahagia

Terdiagnosa

Bulan lalu akhirnya saya memutuskan untuk menemui psikolog setelah mengalami kecemasan yang luar biasa saat menghadapi skripsi; dada yang begitu sakit, sesak sampai kesulitan bernapas, lalu berakhir dengan menyakiti diri karena tak ada air mata yang keluar sebagai pelampiasan. Masalahnya, kejadian itu masih berlanjut keesokan harinya, di waktu-waktu yang tak terduga. Saya takut bahkan ketika baru bangun tidur, ketika melihat laptop, ketika melihat notifikasi email mengenai laporan pasang surut yang - entah dari mana - sering muncul di layar hp, sampai menghindari salah satu mata kuliah yang sudah diambil tanpa peduli akan dapat E. Saya mulai mengkhawatirkan hal-hal yang akan terjadi kedepannya. Menemui psikolog pun akhirnya menjadi salah satu pilihan yang saya ambil.

Bertemu psikolog memang hal yang pernah ingin saya lakukan sebelumnya, setelah menyadari ada yang aneh dengan diri saya, terutama pikiran. Tapi saya pikir, saya tidak sakit parah. Hal ini lumrah dialami oleh setiap orang. Jadi saya mengurungkan niat itu, sampai akhirnya situasi itu muncul.

Intensitas pertemuan dengan psikolog tidak lama sampai beliau mendiagnosa bahwa saya memiliki distorsi kognitif, atau, kata beliau, kesalahan berpikir. Apa itu penyakit? Entahlah. Tapi saya merasa hampir semua orang pernah mengalaminya.

Pertemuan kami berakhir dengan penjelasan beliau mengenai macam-macam distorsi kognitif dan cara-cara yang harus saya lakukan untuk mengatasinya, kemudian beliau juga menyemangati saya, mengatakan bahwa saya bisa, saya mampu, dan harapannya bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Saya disuruh untuk berjuang sendiri.

Senyum dan tawa saya lontarkan setiap kali beliau bilang kalau 'saya mampu'. Alasannya? Konyol. Sangat konyol. Tentu saja. Pikiran saya sudah seburuk ini. Jadi? Mampu? Cih. Lelucon macam apa itu? Maaf, tapi pikiran saya menolak untuk percaya.

Tapi saya juga menangis disitu. Entah karena luapan emosi yang sudah ditahan sejak beberapa menit sebelumnya, atau karena kata-kata semangatnya. Entah beliau sadar atau tidak, air mata saya sempat jatuh beberapa kali.

Jujur, saya belum benar-benar puas. Saya membayangkan ada terapi untuk saya agar masalah ini cepat selesai. Meskipun begitu, satu hal sudah saya temukan setelah sekian lama menebak-nebak apa yang terjadi dengan diri saya. Dan jika di lihat pada kilas balik, saya pernah melakukan cara-cara itu sebelum bertemu psikolog. Sebentar, apa ini terlihat.. angkuh?

Situasi yang saya hadapi kali ini berbeda dengan apa yang saya coba atasi sebelumnya. Kali ini, rasanya, lebih sulit. Entah karena situasi, atau.......
karena terlalu keras kepala?


Continue reading Terdiagnosa

Hujan

Banyak orang yang menyukai hujan
Tapi aku tidak
Ketika aku merenung dan memandangnya dari balik jendela, aku tidak meyukainya
Air-air itu seperti membawaku kepada kilas balik yang menyedihkan
Rasanya pedih
Sama pedihnya seperti tanah yang dihujam air itu bertubi-tubi

Tapi

Hujan bisa membuatku cepat terlelap
Ketika aku berbaring dikamar,
deras suaranya mengundang kantukku lebih cepat
Membuatku meringkuk dengan nyaman
Membuatku lega dan melupakan rasa sedih

Aku memang membenci hujan

Tapi

Hei, ternyata tidak seburuk itu

-Oktober, 2018-
Continue reading Hujan

Tentang Blog Ini

Ada beberapa hal yang kupikirkan tentang blog ini. Maksudku, tulisan-tulisan yang ku unggah disini.

Dari awal, aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat malu jika ada orang yang kukenal membaca tulisan-tulisanku. Tapi aku tak menampik kalau aku ingin, setidaknya, ada beberapa orang yang tahu mengenai blog ini.

Awalnya, blog ini ingin kujadikan penyalur hobiku dalam menulis. Walaupun sepertinya tulisanku tak menarik, setidaknya impianku tersalurkan : punya blog dan menulis. Tapi sebenarnya, yang kuharapkan bukan tulisan-tulisan seperti ini. Aku mengharapkan tulisan-tulisan menarik dan bermakna.
Kenyataannya? Kurasa tulisanku hanya penuh dengan curhatan-curhatan. Contohnya postingan yang judulnya "gumul". Di beranda memang kelihatannya tulisan rohani, tapi isinya sebenarnya curhatan.

Sejauh ini, tulisan tentang 'menikah' adalah yang terpanjang. Padahal, aku tak pernah pacaran. Lucu sekali. Membahas tentang pasangan, tapi tak pernah merasakan punya pasangan. Hanya sebatas berandai-andai tentang masa depan.

Aku pernah menemukan blog (atau wordpress, aku lupa) berisi kisah si penulis, seperti kumpulan diary yang dia posting kedalam blognya. Tapi tulisannya bagus, bukan yang seperti ini. Aku tidak tahu apakah ada juga blog yang isinya melulu curhatan picisan seperti ini. Entahlah, sepertinya blog ini memang sangat tidak menarik.

Oh, ada tambahan. Mengenai kegelisahanku. Ini tentang Tugas Akhir (skripsi). Sebenarnya masih proposal, tapi ini benar-benar membingungkan. Seminggu terakhir aku terkena asam lambung yang membuat moodku semakin memburuk dalam mengerjakan proposal. Ini menyebalkan. Aku mahasiswa akhir yang ingin cepat-cepat lulus, tapi sesulit ini rupanya.

Ada yang sama sepertiku? Kalau ada, ayo kita berjuang mengakhiri status mahasiswa ini sebagai penerima nilai sidang yang baik dengan pakaian toga yang membanggakan orang tua. Ayo berjuang! :)

Continue reading Tentang Blog Ini