Bulan lalu akhirnya saya memutuskan untuk menemui psikolog setelah mengalami kecemasan yang luar biasa saat menghadapi skripsi; dada yang begitu sakit, sesak sampai kesulitan bernapas, lalu berakhir dengan menyakiti diri karena tak ada air mata yang keluar sebagai pelampiasan. Masalahnya, kejadian itu masih berlanjut keesokan harinya, di waktu-waktu yang tak terduga. Saya takut bahkan ketika baru bangun tidur, ketika melihat laptop, ketika melihat notifikasi email mengenai laporan pasang surut yang - entah dari mana - sering muncul di layar hp, sampai menghindari salah satu mata kuliah yang sudah diambil tanpa peduli akan dapat E. Saya mulai mengkhawatirkan hal-hal yang akan terjadi kedepannya. Menemui psikolog pun akhirnya menjadi salah satu pilihan yang saya ambil.
Bertemu psikolog memang hal yang pernah ingin saya lakukan sebelumnya, setelah menyadari ada yang aneh dengan diri saya, terutama pikiran. Tapi saya pikir, saya tidak sakit parah. Hal ini lumrah dialami oleh setiap orang. Jadi saya mengurungkan niat itu, sampai akhirnya situasi itu muncul.
Intensitas pertemuan dengan psikolog tidak lama sampai beliau mendiagnosa bahwa saya memiliki distorsi kognitif, atau, kata beliau, kesalahan berpikir. Apa itu penyakit? Entahlah. Tapi saya merasa hampir semua orang pernah mengalaminya.
Pertemuan kami berakhir dengan penjelasan beliau mengenai macam-macam distorsi kognitif dan cara-cara yang harus saya lakukan untuk mengatasinya, kemudian beliau juga menyemangati saya, mengatakan bahwa saya bisa, saya mampu, dan harapannya bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Saya disuruh untuk berjuang sendiri.
Senyum dan tawa saya lontarkan setiap kali beliau bilang kalau 'saya mampu'. Alasannya? Konyol. Sangat konyol. Tentu saja. Pikiran saya sudah seburuk ini. Jadi? Mampu? Cih. Lelucon macam apa itu? Maaf, tapi pikiran saya menolak untuk percaya.
Tapi saya juga menangis disitu. Entah karena luapan emosi yang sudah ditahan sejak beberapa menit sebelumnya, atau karena kata-kata semangatnya. Entah beliau sadar atau tidak, air mata saya sempat jatuh beberapa kali.
Jujur, saya belum benar-benar puas. Saya membayangkan ada terapi untuk saya agar masalah ini cepat selesai. Meskipun begitu, satu hal sudah saya temukan setelah sekian lama menebak-nebak apa yang terjadi dengan diri saya. Dan jika di lihat pada kilas balik, saya pernah melakukan cara-cara itu sebelum bertemu psikolog. Sebentar, apa ini terlihat.. angkuh?
Situasi yang saya hadapi kali ini berbeda dengan apa yang saya coba atasi sebelumnya. Kali ini, rasanya, lebih sulit. Entah karena situasi, atau.......
karena terlalu keras kepala?
Continue reading Terdiagnosa