"Ketika watak dosa mengancam untuk menguras semangat hidupmu, pandanglah sumber keselamatanmu, Yesus Kristus, dan kiranya kamu dikuatkan oleh kuasa roh-Nya."
-santapan rohani, 19 juni 2019-
Akhir-akhir ini, semenjak pulang dari PMKM, aku merasa kembali jadi 'aku yang dulu'. Walaupun gak separah dulu, tapi kebiasaan buruk yang suka berpikiran negatif sampai jadi takut bahkan menyalahkan diri sendiri itu rasanya kembali lagi. Parahnya sekarang, hal-hal itu harus aku hadapi, tapi aku gak tau gimana cara ngadepinnya.
Aku sering teringat 1 tahun yang lalu, waktu aku pikir aku sudah berubah menjadi pribadi yang lebih positif. Aku masih ingat caranya, dan aku gak nyangka hal itu berhasil. Aku jadi lebih nyaman dalam menghadapi hidup, lebih enjoy, dan yang terpenting adalah, aku bisa mengucap syukur sama Tuhan untuk semua yang Dia kasi ke aku. Bahagia, tangis, takut, dan semua orang yang Dia hadirkan dalam hidup aku, pokoknya semuuuaaanyaa. Aku mengucap syukur tulus dari hati aku yang paling dalam. Aku gatau gimana mendeskripsikan betapa bahagianya aku ketika bersyukur waktu itu.
Akhir-akhir ini aku sering mencoba untuk mengingat-ingat kembali bagaimana hal itu bisa aku lakukan. Tapi gak tau kenapa, keras kepalaku muncul lagi. Aku tau, tapi aku gak mau. Aku selalu bergumul dengan diri sendiri. Aku selalu bilang, "Tuhan, bantu aku", tapi pada kenyataannya, aku gak kasi masalah aku ke Tuhan. Semua masalah aku peluk sendiri sambil bilang, "Tuhan tolong aku", tanpa berusaha melakukan sesuatu.
Aku semakin benci sama diri sendiri ketika orang-orang bilang masalahku itu gak seberapa. Ya, aku tau. Aku tau diluar sana ada begitu banyak orang yang punya masalah lebih berat dari pada aku. Tapi aku gak tau gimana caranya berubah.
Ditengah-tengah pergumulan, Tuhan mengingatkan aku lewat cara-cara-Nya. Ada waktu dimana aku sudah merasa kecewa. Tanpa menyalahkan apa-apa ke Tuhan, aku berhenti berdoa. Aku gak marah, cuma kecewa dan berhenti berharap. Tapi beberapa minggu setelah itu, di gereja, Tuhan seperti menyatakan diriNya. Aku gak ngerti kenapa, tapi waktu khotbah, aku ngerasa Tuhan kayak ngebuka hati dan pikiran aku. Seolah-olah Dia bilang, "Aku selalu ada, lho. Kenapa kamu meragukan Aku? Aku ada. Aku tetap Allah, bagaimanapun keaadaanmu. Jangan berpaling dari-Ku". Disitu aku merasa tersentuh. Lalu aku jadi emosional setelah khotbah itu. Aku nangis di pujian setelah khotbah yang judulnya 'Kau tetap Allah'. Padahal lagu itu udah sering kudengar. Tapi entah kenapa lagu itu jadi lebih bermakna. Setelah itu, aku kembali berdoa lagi. Tapi sifat buruk ini masih ada. Lalu, ditengah keterpurukan ini, Tuhan mengingatkan aku untuk saat teduh setiap pagi.
Aku gak pernah saat teduh pagi sebelumnya. Waktu SMA, aku cuma baca alkitab, itupun sekedar baca. Lalu aku berhenti karena malas. Sekarang, aku mulai nyoba saat teduh. Aku sadar, aku butuh asupan dari Dia. Hidup aku gak cuma tentang minta-minta, mohon-mohon sama Dia, lalu bersyukur sama semua yang udah Dia kasi. Tapi aku juga harus dapat Firman-Nya. Dan seharusnya memang lebih baik kalau aku dapat santapan rohani setiap hari, bukan cuma setiap hari minggu (itupun kalo fokus dengerin khotbah atau kalau aku emang pergi ke gereja).
Sampai sekarang aku masih gatau harus gimana. Kadang-kadang aku mikir kalo aku butuh ke psikolog, tapi aku takut sekali. Apalagi ketika aku ingat kalau masalah aku ini gak seberapa. Aku jadi mikir kalo aku emang belum butuh kesana. Aku juga takut gak berhasil.
Aku benci aku yang penakut.
Tapi aku percaya, Dia pasti tunjukan jalan. Aku gak pernah tau kapan dan gimana, tapi Dia gak pernah biarkan aku jatuh tergeletak selamanya.
"Saat kita jatuh terpuruk, ada tangan Tuhan yg terulur. Pilihannya ada di kita, menyambut uluran tanganNya dan berusaha bangkit atau mengabaikanNya".
Continue reading "gumul"