Hujan

Banyak orang yang menyukai hujan
Tapi aku tidak
Ketika aku merenung dan memandangnya dari balik jendela, aku tidak meyukainya
Air-air itu seperti membawaku kepada kilas balik yang menyedihkan
Rasanya pedih
Sama pedihnya seperti tanah yang dihujam air itu bertubi-tubi

Tapi

Hujan bisa membuatku cepat terlelap
Ketika aku berbaring dikamar,
deras suaranya mengundang kantukku lebih cepat
Membuatku meringkuk dengan nyaman
Membuatku lega dan melupakan rasa sedih

Aku memang membenci hujan

Tapi

Hei, ternyata tidak seburuk itu

-Oktober, 2018-
Continue reading Hujan

Tentang Blog Ini

Ada beberapa hal yang kupikirkan tentang blog ini. Maksudku, tulisan-tulisan yang ku unggah disini.

Dari awal, aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat malu jika ada orang yang kukenal membaca tulisan-tulisanku. Tapi aku tak menampik kalau aku ingin, setidaknya, ada beberapa orang yang tahu mengenai blog ini.

Awalnya, blog ini ingin kujadikan penyalur hobiku dalam menulis. Walaupun sepertinya tulisanku tak menarik, setidaknya impianku tersalurkan : punya blog dan menulis. Tapi sebenarnya, yang kuharapkan bukan tulisan-tulisan seperti ini. Aku mengharapkan tulisan-tulisan menarik dan bermakna.
Kenyataannya? Kurasa tulisanku hanya penuh dengan curhatan-curhatan. Contohnya postingan yang judulnya "gumul". Di beranda memang kelihatannya tulisan rohani, tapi isinya sebenarnya curhatan.

Sejauh ini, tulisan tentang 'menikah' adalah yang terpanjang. Padahal, aku tak pernah pacaran. Lucu sekali. Membahas tentang pasangan, tapi tak pernah merasakan punya pasangan. Hanya sebatas berandai-andai tentang masa depan.

Aku pernah menemukan blog (atau wordpress, aku lupa) berisi kisah si penulis, seperti kumpulan diary yang dia posting kedalam blognya. Tapi tulisannya bagus, bukan yang seperti ini. Aku tidak tahu apakah ada juga blog yang isinya melulu curhatan picisan seperti ini. Entahlah, sepertinya blog ini memang sangat tidak menarik.

Oh, ada tambahan. Mengenai kegelisahanku. Ini tentang Tugas Akhir (skripsi). Sebenarnya masih proposal, tapi ini benar-benar membingungkan. Seminggu terakhir aku terkena asam lambung yang membuat moodku semakin memburuk dalam mengerjakan proposal. Ini menyebalkan. Aku mahasiswa akhir yang ingin cepat-cepat lulus, tapi sesulit ini rupanya.

Ada yang sama sepertiku? Kalau ada, ayo kita berjuang mengakhiri status mahasiswa ini sebagai penerima nilai sidang yang baik dengan pakaian toga yang membanggakan orang tua. Ayo berjuang! :)

Continue reading Tentang Blog Ini

Novel

Pernahkah novel menjadi alasanmu hobi membaca?

Aku pernah.

Dulu, jaman putih biru dan putih abu-abu, aku suka membaca novel. Setiap kali pergi ke mall, gramedia selalu menjadi tempat yang tak pernah tak ku kunjungi. Keluar dari gramedia, tanganku memang tak pernah kosong. Setidaknya, ada satu buku yang kubawa pulang.

Novel-novelku tersusun rapi diatas meja. Walau pada kenyataannya, ada cukup banyak yang hilang entah kemana.

Soal genre? Aku tak pernah punya genre favorit. Dari cerita romansa, humor garing, cerita dari blog, sampai kisah konyol nan dodol pun pernah ku beli.

Aku tak pernah tau novel yang sedang laris, atau yang terbaru. Aku tak pernah mengikuti perkembangan terbaru soal novel-novel yang ada di toko buku itu, atau buku yang sedang digemari anak-anak muda pada jamannya. Yang ku tahu hanya datang kesana, baca sinopsis, membayangkan kisahnya, lalu membeli. Alasan lain juga karena rekomendasi dari orang yang menemaniku berburu novel saat itu.

Menyenangkan? Tentu saja. Aku suka sekali membaca (cerita fiksi seringnya). Novel itu temanku kala libur dan bosan.

Tapi itu dulu.

Semenjak kuliah, novel sudah menjadi masa lalu. Kalau ditanya, "Kapan terakhir kali baca novel?", jawabannya, mungkin tahun lalu. Tapi novel yang kubaca itu tidak membekas. Hanya seperti angin lalu.  Novel yang ku ingat hanya Dilan, yang kubaca beberapa tahun yang lalu.

Setelah sekian lama, novel sudah bukan bagian dari kesenanganku lagi.

Kemudian, banyak pertanyaan muncul dikepalaku.
"Mengapa?"
"Bagaimana bisa?"

Berbagai spekulasi dalam kepalaku muncul, seperti,
"Apa kemalasanku sudah akut sampai-sampai menyerang hobi?"

Lalu, nanti, apa membaca novel bisa menjadi hobiku lagi?
Continue reading Novel

Confusion on May 21, 2019

When i said that i have a problem with mental health, my mom said "no, you don't!"
When i said that i am sick, my mom said "no! You are not sick."
When i said that i need to go to the psychologist, my mom said, "why? You don't need it. You're healthy."
When i told to my mom about my friend who got mental illness and she got depressed just like me, she said, "why are you hurting me? You're not sick! Stop talking about that. You make me really sad, i feel that i failed to be a good parent for you."
And suddenly i stopped.

But, somehow, my mom said, "if you want to go to the psychologist, i allowing you. Maybe you need it. Just in case you can be more confident and be thankful for your life."
It was surprising to me. But, somehow, i was thinking that i'm too much. So, i said to her, "i don't need it. I can fix myself alone."
My mom was confused, but she never force me.

But, a few days ago, i said to my mom, "i can't stand it anymore. I really can't fix it. This is so hard. I really need a psychologist."
But, unexpectedly, my mom answered, "please be mature, my daughter. Don't hurt yourself. Just try to think about your future and your family. We need you to be healthy. Don't think too much, it will hurt you. Stop thinking about going to a psychologist or whatever. You're strong. You don't need to go there yet. You can fix it by yourself."
After that, i was thinking like what my mom said.

But suddenly, i just watched a video about so many people have problems, many people can have mental illness. It said, "if you have mental illness, and you can't stand it, and make you hurt yourself even other people, please go to a psychologist. It's important for you and people around you."

Now i'm thinking.
I have ever hurted and thought to hurt myself because of (i think) my depression. But now, for these days, i never do that again. At least, rarely. So, should i go to the psychologist when i feel that i don't need it?
Continue reading Confusion on May 21, 2019

"gumul"

"Ketika watak dosa mengancam untuk menguras semangat hidupmu, pandanglah sumber keselamatanmu, Yesus Kristus, dan kiranya kamu dikuatkan oleh kuasa roh-Nya." 
-santapan rohani, 19 juni 2019-

Akhir-akhir ini, semenjak pulang dari PMKM, aku merasa kembali jadi 'aku yang dulu'. Walaupun gak separah dulu, tapi kebiasaan buruk yang suka berpikiran negatif sampai jadi takut bahkan menyalahkan diri sendiri itu rasanya kembali lagi. Parahnya sekarang, hal-hal itu harus aku hadapi, tapi aku gak tau gimana cara ngadepinnya.

Aku sering teringat 1 tahun yang lalu, waktu aku pikir aku sudah berubah menjadi pribadi yang lebih positif. Aku masih ingat caranya, dan aku gak nyangka hal itu berhasil. Aku jadi lebih nyaman dalam menghadapi hidup, lebih enjoy, dan yang terpenting adalah, aku bisa mengucap syukur sama Tuhan untuk semua yang Dia kasi ke aku. Bahagia, tangis, takut, dan semua orang yang Dia hadirkan dalam hidup aku, pokoknya semuuuaaanyaa. Aku mengucap syukur tulus dari hati aku yang paling dalam. Aku gatau gimana mendeskripsikan betapa bahagianya aku ketika bersyukur waktu itu.

Akhir-akhir ini aku sering mencoba untuk mengingat-ingat kembali bagaimana hal itu bisa aku lakukan. Tapi gak tau kenapa, keras kepalaku muncul lagi. Aku tau, tapi aku gak mau. Aku selalu bergumul dengan diri sendiri. Aku selalu bilang, "Tuhan, bantu aku", tapi pada kenyataannya, aku gak kasi masalah aku ke Tuhan. Semua masalah aku peluk sendiri sambil bilang, "Tuhan tolong aku", tanpa berusaha melakukan sesuatu.

Aku semakin benci sama diri sendiri ketika orang-orang bilang masalahku itu gak seberapa. Ya, aku tau. Aku tau diluar sana ada begitu banyak orang yang punya masalah lebih berat dari pada aku. Tapi aku gak tau gimana caranya berubah.

Ditengah-tengah pergumulan, Tuhan mengingatkan aku lewat cara-cara-Nya. Ada waktu dimana aku sudah merasa kecewa. Tanpa menyalahkan apa-apa ke Tuhan, aku berhenti berdoa. Aku gak marah, cuma kecewa dan berhenti berharap. Tapi beberapa minggu setelah itu, di gereja, Tuhan seperti menyatakan diriNya. Aku gak ngerti kenapa, tapi waktu khotbah, aku ngerasa Tuhan kayak ngebuka hati dan pikiran aku. Seolah-olah Dia bilang, "Aku selalu ada, lho. Kenapa kamu meragukan Aku? Aku ada. Aku tetap Allah, bagaimanapun keaadaanmu. Jangan berpaling dari-Ku". Disitu aku merasa tersentuh. Lalu aku jadi emosional setelah khotbah itu. Aku nangis di pujian setelah khotbah yang judulnya 'Kau tetap Allah'. Padahal lagu itu udah sering kudengar. Tapi entah kenapa lagu itu jadi lebih bermakna. Setelah itu, aku kembali berdoa lagi. Tapi sifat buruk ini masih ada. Lalu, ditengah keterpurukan ini, Tuhan mengingatkan aku untuk saat teduh setiap pagi.

Aku gak pernah saat teduh pagi sebelumnya. Waktu SMA, aku cuma baca alkitab, itupun sekedar baca. Lalu aku berhenti karena malas. Sekarang, aku mulai nyoba saat teduh. Aku sadar, aku butuh asupan dari Dia. Hidup aku gak cuma tentang minta-minta, mohon-mohon sama Dia, lalu bersyukur sama semua yang udah Dia kasi. Tapi aku juga harus dapat Firman-Nya. Dan seharusnya memang lebih baik kalau aku dapat santapan rohani setiap hari, bukan cuma setiap hari minggu (itupun kalo fokus dengerin khotbah atau kalau aku emang pergi ke gereja).

Sampai sekarang aku masih gatau harus gimana. Kadang-kadang aku mikir kalo aku butuh ke psikolog, tapi aku takut sekali. Apalagi ketika aku ingat kalau masalah aku ini gak seberapa. Aku jadi mikir kalo aku emang belum butuh kesana. Aku juga takut gak berhasil.

Aku benci aku yang penakut.

Tapi aku percaya, Dia pasti tunjukan jalan. Aku gak pernah tau kapan dan gimana, tapi Dia gak pernah biarkan aku jatuh tergeletak selamanya.

"Saat kita jatuh terpuruk, ada tangan Tuhan yg terulur. Pilihannya ada di kita, menyambut uluran tanganNya dan berusaha bangkit atau mengabaikanNya".

Continue reading "gumul"